BALI EXPRESS- Bicara gula aren di Bali, pikiran akan tertuju ke Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Masyarakat Desa Pedawa adalah salah satu penghasil gula aren di Bali. Di sana, gula aren tidak sebatas diperjualbelikan untuk kepentingan pemanis makanan.
Masyarat Hindu di desa itu juga menggunakan gula aren sebagai sebagai sarana upacara, khususnya banten Gula Klapa dan daksina.
Pembutan gula aren di desa ini melalui proses panjang. Ada beragam varian gula arena yang dihasilkan oleh masyarakat setempat.
Seperti gula gede atau gula batok, gula kicak, gula let, gula kerikan dan gula inceh. Gula tersebut dihasilkan dari bahan baku yang sama yakni air nira.
Dikatakan tokoh adat Desa Pedawa Wayan Sukrata, gula gede merupakan varian tradisional yang paling klasik. Gula ini ukurannya memang paling besar di antara yang ada. Bentuk inipun dianggap paling lumrah ditemukan di pasaran.
Kemudian ada pula gula kicak. Gula arena ini merupakan versi mini daripada gula gede.
Kata kicak dalam bahasa Pedawa diartikan sebagai ukuran yang kecil. Namun memiliki bentuk yang sama dengan gula gede.
Ada pula varian gula let yang merupakan varian sesungguhnya dari gula gede yang telah berumur 6 bulan hingga setahun.
Jenis gula let ini yang membedakan dengan gula gede adalah perubahan warna yang lebih hitam. Namun, dari sisi rasa lebih manis dan sedikit asam.
“Banyak yang mencari gula let ini untuk kebutuhan pembuatan loloh atau jamu-jamuan. Makanya gula ini paling susah dicari,” kata Sukrata.
Sedangkan untuk gula kerikan adalah gula yang diperoleh dari hasil pengerikan yang telah didinginkan dalam wajan sebelum dicetak. Terkadang gula ini dihasilkan lagi untuk menjadi gula semut.
Namun lebih sering digunakan untuk pemanis atau camilan saat menikmati minuman. Terkadang digunakan untuk meminum kopi pahit.
Terakhir ada gula inceh yang juga artinya encer. Gula inceh merupakan varian gula cair dengan tingkat kekentalan standar.
“Gula inceh diperoleh dari tuak yang sudah mengental saat proses pemasakan,” jelas Sukrata. (*)
Editor : I Made Mertawan