Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gunakan Celebingkah dan Batu, Begini Cara Pengobatan Tradisional di Klungkung untuk Atasi Sakit Gigi

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 22 September 2023 | 18:03 WIB
AMPUH : I Wayan Cepeg, 70, saat mengobati pasien dengan keluhan sakit gigi.
AMPUH : I Wayan Cepeg, 70, saat mengobati pasien dengan keluhan sakit gigi.

 

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Pengobatan tradisional di Bali telah dikenal secara turun temurun dan hingga saat ini masih eksis. Sebab masyarakat Bali masih banyak yang menjalani pengobatan tradisional apalagi ketika penanganan medis dinilai tak mampu mengatasi keluhan yang dialami.

 

Salah satu pengobatan tradisional yang terdengar unik namun membuat penasaran adalah  pengobatan sakit gigi dengan cara mengeluarkan ulat yang bersarang pada gigi yang bermasalah.

 

 

Pengobatan tradisional ini dilakoni oleh oleh I Wayan Cepeg, 70, warga Banjar Koripan Kangin, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali.

 

Cepeg sendiri sudah sejak lama dikenal masyarakat mampu membantu warga yang mengalami sakit gigi dengan cara mengeluarkan ulat gigi yang ada didalamnya.

 

Praktek pengobatan tradisional tersebut sudah ia lakukan sejak tahun 1980-an. Awalnya, ia mengalami sakit gigi yang tak kunjung sembuh hingga dirinya mencari cara untuk menyembuhkan sakit gigi yang dialaminya. “Waktu itu saya coba cari cara, bagaimana agar bisa menyembuhkan sakit gigi itu,” ujarnya kepada Bali Express Jawa Pos Group.

 

Baca Juga: 8 Varietas Tebu yang Digunakan dalam Upacara Adat Hindu di Tabanan, Bali

 

Ia pun berinisiatif untuk mengeluarkan ulat kecil yang bersarang pada gigi yang bermasalah, yang umumnya ada pada gigi berlubang. Namun hal itu tentu tidak terlepas dari bantuan niskala yakni Sesuhunan yang disungsung Cepeg.

 

Hanya saja ia tidak bisa menyebutkan secara pasti. Konon katanya Ccpeg mendapatkan ilham pengobatan dari Sesuhunan yang ada di Tukad Bubuh tepat di timur rumahnya. “Ya saya dibantu Sesuhunan driki (disini) agar mepaice tamba (memberikan obat),” imbuh Cepeg.

 

Tamba yang dimaksud adalah berupa minyak yang pertama-tama akan dioleskan pada gigi pasien yang berlubang. Tapi sebelum itu, Cepeg akan mengecek gigi pasien untuk mengetahui apakah gigi pasien itu memang berisi ulat atau tidak. Jika iya maka proses pengobatan akan dilanjutkan.

 

“Dicek dulu giginya, berisi ulatnya atau tidak,” paparnya.

 

 

Lanjut, kakek 7 orang cucu itu menambahkan jika setelah dicek, maka ia akan mengoleskan minyak yang pada gigi yang bermasalah tersebut. Sembari dirinya memanaskan celebingkah atau pecahan genteng dengan bantuan strongking.

 

“Sekarang memanaskan celebingkah sudah lebih mudah dibandingkan dulu yang tanpa bantuan strongking. Kalau dulu lama menghidupkan api. Kemudian ada yang menawarkan saya bantuan untuk memodifikasi strongking yang saya punya untuk memudahkan memanaskan celebingkah itu,” terangnya.

 

Nah, sambil menunggu celebingkah panas, Cepeg juga menyiapkan sebuah paso dari tanah liat yang diisi sedikit air. Kemudian ia meletakkan sebuah batu di dalamnya. Batu ini lah yang digadang-gadang juga merupakan paica dari sesuhunan yang disungsung Cepeg.

 

Lalu setelah celebingkah panas, maka celebingkah diletakkan diatas batu kemudian ditutup menggunakan kau (batok kelapa) yang diatasnya sudah dipasang selang plastik kecil. Sesegera mungkin si pasien diminta meletakkan ujung selang pada gigi yang bermasalah lalu ditiup hingga air pada paso bergelembung.

 

“Nanti akan keluar ulatnya berwarna putih yang langsung masuk air. Uap dari celebingkah yang panas itu yang diperlukan, kalau uapnya sudah habis celebingkahnya dipanaskan lagi,” sebutnya.

 

Dan benar saja, saat wartawan koran ini menyambangi rumah Cepeg kebetulan ada seorang pasien yang sedang berobat. Setelah meniup selang tersebut, satu per satu ulat kecil berwarna putih keluar dan ‘berenang’ di dalam air di paso tersebut.

 

 

Praktek pengobatan tradisional ini bisa dibilang cukup sederhana, tempat pengobatannya pun hanya pada sebuah bedeng di sisi timur rumah Cepeg.

 

Namun pasien yang datang untuk berobat datang dari berbagai daerah di Bali. Sebab meskipun terdengar masih asing, pengobatan tradisional ini tidak diragukan lagi keampuhannya. “Saya tidak mematok biaya, karena disini saya Ngayah,” tandas Cepeg.

 

Hal itu itu pun diakui salah seorang pasien yang sudah beberapa kali melakukan pengobatan tersebut, Komang Ayu, 29. Menurutnya ia memang memiliki satu gigi berlubang dan ketika sakitnya tidak reda meskipun sudah diperiksa oleh dokter.

 

 

“Lalu ada teman yang menyarankan agar dileuarkan saja ulat giginya,” ungkapnya.

 

Awalnya ia sempat ragu, namun ia memberanikan diri agar sakit giginya segera hilang. “Tetapi saya penasaran akhirnya saya coba datang,” ujarnya.

 

Dan benar saja, setelah ulat gigi dikeluarkan rasa sakit yang dialaminya langsung hilang dan jarang kambuh lagi. Bagi pasien yang ingin berobat cukup membawa canang dan diisi sesari seikhlasnya. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #pengobatan #sakit #gigi #ulat #tamba #klungkung #tradisional