DENPASAR, BALI EXPRESS – Pasar Badung yang berada di pusat Kota Denpasar merupakan pasar tradisional terbesar di Bali.
Meski begitu, banyak ditemukan kios maupun los yang masih kosong. Penampakan ini terjadi khususnya di lantai 4 Pasar Badung tersebut yang sangat amat sepi.
Alhasil, para pedagang yang bertahan di lokasi ini pun mengakui kondisi sangat sepi dan tentu saja mempengaruhi pendapatan mereka.
Salah seorang pedagang di Lantai 4 Pasar Badung yang namanya enggan dipublikasikan ini mengaku sudah sejak pindah kembali ke Pasar Badung pembeli sudah sangat sepi.
Terlebih saat pandemi Covid-19 kunjungan kian menurun. Hingga saat ini pun dia mengaku penjualan minus.
“Sebulan kadang gak dapat jualan. Bukan saya saja, tetangga di sebelah juga banyak yang mengeluh begitu,” ujarnya.
Kondisi ini membuatnya ingin meninggalkan pasar. Hanya saja dia mengaku masih belum memiliki pekerjaan lain untuk menyambung hidup.
“Saya ga ada pilihan. Tapi sepinya ini saya perkirakan akan berlanjut yang kemungkinan akan ikut tutup kios ini,” ujarnya.
Dia berharap ada kemudahan semisal biaya operasional dan sewa bisa ditekan.
Saat ini dia mengaku masih membayar Rp 500 ribu per bulan. Dia berharap jika biaya bulanan bisa Rp50 ribu kemungkinan dia masih bisa bertahan.
Sementara itu, Dirut Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar Ida Bagus Kompyang Wiranata saat dikonfirmasi pada Senin 25 September 2023 mengatakan, sebenarnya pedagang saat ini sudah diberikan keringanan biaya sewa.
Semestinya mereka bayar Rp300 ribu per bulan, namun kini hanya bayar Rp175 ribu.
Ditambah biaya operasional pedagang (BOP) Rp7.500 kali 30 hari menjadi total yang harus dibayar pedagang adalah Rp400 ribu per bulan.
Sebelumnya ia membenarkan adanya kios dan los kosong di Pasar Badung. Dia mengungkapkan jumlahnya mencapai 50 persen dari jumlah pedagang di lantai 3 dan 4. Sedangkan lantai 2 dan 3 masih penuh terisi.
Dia menuturkan, banyak pedagang yang direlokasi ke Pasar Lokitasari pasca kebakaran terdahulu belum kembali lagi ke Pasar Badung.
Kekosongan kios dan los inipun dikatakan pihaknya berpengaruh terhadap pendapatan perumda. Hal tersebut karena banyak pedagang yang memiliki tunggakan pembayaran iuran BOP.
Demikian dikatakannya, kekosongan ini tidak hanya terjadi di Pasar Badung saja.
Beberapa pedagang di pasar lainnya, seperti Pasar Kumbasari, Pasar Satria dan Pasar Kereneng juga ada yang telah mengembalikan tempat berjualan.
Editor : I Putu Suyatra