BALI EXPRESS – Adanya dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pemangku di Bali menjadi perhatian banyak pihak.
Hal ini lantaran oknum pemangku bernama Jero Dasaran Alit ini memiliki usia masih muda dan kerap menuai pro kontra dengan berbagai statementnya di media sosial.
Lalu seperti apa sasana kepamangkuan yang seharusnya dijalankan oleh seorang rohaniwan?
Seseorang yang telah mawinten wajib memahami disiplin dan etika menjadi seorang pemangku.
Hal tersebut diungkap oleh Pinandita Pasek Swastika dari Asram Sari Taman Beji.
Etika itu harus ditekankan agar seorang pemangku yang merupakan seorang rohaniawan Hindu tidak menyimpang dari sasana kepemangkuan karena masih dikuasi oleh hawa nafsu.
Lebih lanjut pihaknya juga menekankan, bagi pemangku yang mawinten karena kemauan sendiri ataupun karena sebab sesuatu, wajib memiliki seorang nabe atau guru spiritual.
Tujuannya sebagai kontrol dan pengingat agar sang nanak tidak keluar dari ajaran dharma.
Jika sang nanak terbukti melakukan penyimpangan ajaran dharma seperti melakukan pelecehan seksual, maka sang nabe memiliki kewenangan mencabut pawintenan yang telah diberikan.
“Sanksi ini formal dan nonformal. Jika terbukti, akan terkena sanksi hukum formal. Selain itu juga ada sanksi pencabutan pawinten yang telah diberikan kalau punya nabe,” jelasnya.
Akan tetapi, jika sang pemangku tidak memiliki nabe, maka masyarakatlah yang akan memberikan sanksi sosial.
Kembali kepada masyarakat, apakah mereka mau bantennya dianteb oleh orang yang sudah tercela.
Sebab, menurut tata laksana dan dresta, seorang pemangku yang melakukan perbuatan tercela tidak bisa nganteb banten dalam upacara apapun karena telah menjadi cuntaka.
Tidak berhasil gunalah sesuatu yadnya itu kalau dianteb oleh oknum tersebut.
Lebih lanjut dia menyebut, ada lima penompang yadnya itu berhasil, di antaranya penganteb lan pamuput, aksara, pengangga, seha puja mantra dan upakara.
“Lima poin ini adalah penunjang yadnya. Sekarang poin pertama penganteb dan pamuput. Kalau sudah tercela, ya percuma juga yadnya itu dianteb oknum tersebut,” paparnya.
“Karena itu, nabe-lah yang sekarang berperan membingkai nanak-nanaknya memberikan suatu ajaran aguron-guron,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna