Hidup dalam beberapa puluh tahun, bukanlah waktu yang lama. Ironisnya, kesejatian hidup yang hanya sekejap banyak dimanfaatkan untuk hal-hal tidak berguna. Banyak kebiasaan manusia untuk menunda melaksanakan perbuatan baik, memperbanyak perbuatan buruk, atau bahkan tidak melaksanakan perbuatan sama sekali.
Hal ini tentunya adalah aksi menyia-nyiakan kesempatan hidup sebagai manusia. Lalu, apa yang harus dilakukan manusia agar berguna pada hidup saat ini maupun menentukan “nasib” Sang Atman nanti ? berikut penjelasan Sārasamuccaya 14:
Baca Juga: Berikut Tata Cara Pelaksanaan Nyiramin Layon Menurut Buku Dharma Gosana
“Iking tang janma wwang, kṣanikaswabhāwa ta ya, tan pahi lawan kĕḍapning kilat, durlabha towi, matangnyan pöngakĕna ya ri kagawayaning dharmasadhāna, sakaraṇanging manāṣanang sangsāra, swargaphala kunang”
Terjemahannya:
“Penjelmaan menjadi manusia ini, pendek dan cepat keadaannya itu. Tiada ubahnya bagai kilatan halilintar, serta amat sulit juga untuk dicapai. Oleh sebab itu, gunakanlah sebaik mungkin kesempatan menjadi manusia ini dengan jalan melakukan pengamalan kebajikan, sebagai sarana lenyapnya proses lahir dan mati sehingga mampu mencapai surga.”
Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, memaparkan bahwa Sārasamuccaya 14 memberikan perenungan bahwa manusia hendaknya berbuat kebajikan dalam kesempatan hidup yang sekejap. Berbuat kebajikan itu adalah berbuat kebaikan.
“Manusia diharapkan membiasakan diri untuk selalu melaksanakan perbuatan luhur yang bermanfaat positif bagi diri maupun orang lain. Apa saja perbuatan kebajikan yang bisa kita lakukan sebagai manusia Hindu ? Tentu jawaban pokoknya adalah melaksanakan tri kaya parisudha dengan sungguh-sungguh dan konsisten,” jelasnya.
Baca Juga: Viral Video Megawati Hempas Tangan Jokowi, Puan Maharani Justru Bilang Begini!
Pertama, manusia wajib bajik dalam berfikir. Keutamaan hidup lahir ke dunia sebagai manusia adalah karena memiliki idep pemikiran. Pemikiran ini sejatinya menjadi pangkal realitas hidup manusia.
Segala yang dipikirkan, memungkinkan untuk diikuti oleh tubuh, sehingga terwujud hal-hal sesuai keinginan pikiran. Sensitifnya posisi pikiran dalam hidup manusia, wajib dimanajemen dengan baik. Hendaknya manusia tidak berpikir berbuat kejahatan. Disisi lain, jangan berpikir berbuat kebaikan, namun di dalamnya terselubung tujuan kejahatan.
Kedua, hendaknya manusia bijak dalam berkata. Perkataan manusia ibarat senjata. Bila benar memanfaatkan senjata, maka berkah hidup yang didapatkan. Sebaliknya, ketika salah mempergunakan senjata, tidak menutup kemungkinan akan melukai diri sendiri. Oleh sebab itu, manusia hendaknya selektif dalam berkata, agar nantinya mendatangkan kebaikan tak terhingga baik dari sisi pertemanan ataupun kebahagiaan.
Baca Juga: Sayonara, PSIS Semarang Lepas Wawan Febriyanto ke Klub Liga 2
Terakhir, manusia perlu bajik dalam berbuat. Perbuatan baik nantinya adalah hal yang paling terlihat dalam hidup manusia. Manusia perlu mengisi kesempatan hidupnya untuk berbuat baik, baik dengan mapunia secara tulus, menolong sesama, menyayangi lingkungan alam, hewan dan sebagainya, serta berusaha untuk menciptakan santih secara universal.
“Niscaya, dengan kebiasaan berbuat baik itu manusia akan memiliki “investasi karma baik” yang melimpah. Investasi karma akan dipergunakan sebagai bekal abadi bagi atma ketika kembali kepada Sang Paramakawi. Perbuatan baik yang melimpah, memungkinkan manusia terbebas dari kelahiran atau moksha,” pungkas Danu Tirta. (ade
Editor : Nyoman Suarna