Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Konsumsi Ikan di Bali Masih Tergolong Rendah, Sumardiana Ungkap Penyebabnya 

Rika Riyanti • Selasa, 14 November 2023 | 23:00 WIB
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana mengungkap konsumsi ikan di Bali masih rendah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana mengungkap konsumsi ikan di Bali masih rendah.

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dikelilingi laut nyatanya masyarakat Bali tak lantas rajin mengonsumsi ikan.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, tingkat konsumsi ikan di Bali masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan target nasional.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana membeberkan, tingkat konsumsi ikan di Bali pada tahun 2021 baru mencapai 44,81 kilogram/kapita, setahun berikutnya menyentuh 45,87 kilogram/kapita.

Masih jauh dibandingkan tingkat konsumsi ikan secara nasional yang telah mencapai 59 kilogram/kapita per tahun.

“Bali masih jauh, masih kecil, kalau dibandingkan itu setara dengan ikan utuh,” kata Sumardiana, Selasa 14 November 2023.

Maka dari itu, gerakan dari pusat meminta agar daerah dapat membumikan makan ikan. Sebab selama ini, mengonsumsi ikan oleh masyarakat Bali dinilai mahal, pengolahan susah, serta berbau amis.

Padahal menurut Sumardiana, ikan tak mesti mahal untuk mendapatkan kandungan baiknya.

“Ada kok ikan yang murah namun tetap memiliki kandungan protein dan omega tinggi seperti lele, kembung, lemuru,” sebutnya.

Belum lama ini, untuk meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat, Dinas Kelautan dan Perikanan Bali bergabung dalam program penanganan stunting oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Selain itu, ada juga PMD, Dukcapil, hingga TP PKK.

“Kita bekerja bersama-sama, salah satu program kita adalah Gemarikan adalah gerakan memasyarakatkan makan ikan. Agar sasaran tepat, kami kerja sama dengan Dinkes. Dinkes punya data potensi stunting,” papar Sumardiana.

“Berdasarkan itu kita intervensi di wilayah stuntingnya cukup tinggi, yang kedua disamping bekerjasama dengan Dinkes Provinsi kita juga bekerjasama dengan Dinas yang menangani perikanan di Kabupaten/Kota, beliau yang lebih dekat dengan masyarakat,” sambungnya. 

Berdasarkan data itu kata Sumardiana, ia langsung melakukan intervensi seberapa banyak yang akan mendapatkan bantuan pangan hasil laut.

Sementara itu yang diprioritaskan adalah wilayah dengan tingkat stuntingnya yang tinggi. Pihaknya juga koordinasi dengan Posyandu kabupaten/kota. 

Dari data 2022-2023, jumlah balita stunting tertinggi berada di Kabupaten Karangasem, disusul Gianyar, Buleleng dan Jembrana.

Melalui program gerakan makan ikan, disosialisasikan manfaat mengonsumsi ikan terutama kepada ibu-ibu agar menjadikan ikan sebagai menu utama. 

“Kadang di masyarakat ikan tahunya yang mahal seperti salmon bagus tapi harganya mahal, memang bagus. Sementara ikan yang protein dan omeganya tinggi tidak mesti salmon, seperti lemuru, lele, kembung kan harganya tidak mahal itu yang kita sampaikan ke masyarakat,” terangnya. 

Disamping itu, sosialisasi juga dikemas dalam bentuk lomba masak melalui PKK. Hal ini karena PKK merupakan satu-satunya organisasi yang memiliki struktur sampai ke tingkat banjar.

Menurut Sumardiana harus ada edukasi berkelanjutan terkait manfaat mengonsumsi ikan. 

“Kalau menurut saya perlu penyebarluasan informasi lebih massiv agar masyarakat tahu dari segi jumlah ikan banyak. Produksi pindang di Klungkung itu hampir 7-10 ton perhari dan habis setiap hari. Ikan itu masuk ke pegunungan seperti ke Mengwi ke Petang, kita akan angkat bersama-sama edukasi,” tuturnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #konsumsi ikan #stunting