Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Wayan Sukarta Teknisi LPJU Dishub Buleleng, Sering Dapat Laporan Fiktif Hingga Mata Hampir Buta

Dian Suryantini • Jumat, 26 Januari 2024 | 18:21 WIB

Sosok Wayan Sukarta, teknisi Lampu Penerangan Jalan Umum dari Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng
Sosok Wayan Sukarta, teknisi Lampu Penerangan Jalan Umum dari Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tiap sudut Buleleng telah menjadi panggungnya, dari Kecamatan Tejakula hingga Kecamatan Gerokgak. Cerita unik dan menggelitik mengikuti setiap langkahnya. Sosok itu ialah Wayan Sukarta, teknisi Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU), di Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng.

Wayan Sukarta yang berasal dari Kelurahan Banyuning, Buleleng adalah sosok yang bersahaja dan selalu siaga. Ia telah mengarungi 14 tahun petualangan panjat tiang dan perbaikan lampu. Hingga kini pekerjaan itu masih ia lakukan.

 Baca Juga: Lirik Lagu ‘Egois’ yang Dipopulerkan oleh Band Leeyonk Sinatra

Bagi Sukarta, setiap laporan perbaikan lampu bisa menjadi kisah seru. Terkadang, ia merespon laporan dari masyarakat, yang membuatnya bekerja keras untuk memastikan setiap jalur penerangan jalan dalam kondisi optimal. Tapi, tak jarang pula ia harus menghadapi laporan bohong, yang membuatnya merasa dilema antara tanggung jawab dan kekecewaan.

 

“Yang namanya kewajiban saya lakukan dan saya datang. Tapi sampai disana ternyata tidak ada apa-apa. Laporannya fiktif. Bayangkan dari ujung timur Buleleng saya tancap gas ke barat Buleleng. Itu jauh dan lama, karena kebetulan saat itu saya yang bertugas,” kata dia saat dijumpai belum lama ini.

 

Memang, untuk memanjat tiang lampu, Dinas Perhubungan Buleleng punya kendaraan skylift. Tetapi kendaraan itu tidak dapat menjangkau tiang lampu yang terpasang pada gang-gang kecil. Sukarta dan tim harus menanganinya dengan mobil kecil dan tangga manual. Tentu, aktivitas yang dijalani Sukarta itu penuh resiko, terutama masalah sengatan listrik. Tidak terhitung berapa kali ia tersengat. Bahkan sekujur tubuhnya pernah merasakan sengatan. Dari ujung kaki hingga ujung rambut.

 

“Setrum sudah jadi makanan sehari-hari. Setiap melakukan perbaikan pasti pernah saja. Kalau tidak tangan ya kaki, siku, telinga, semuanya deh,” ujarnya sambil tertawa.

 

Meski sengatan kecil, tetapi bisa membahayakan nyawa. Beruntung Sukarta memiliki reflek yang baik. Ketika ia tersengat arus listrik dengan cepat ia menghindar. Jika tidak,  maka ia bisa saja terbujur kaku di atas tiang lampu.

 Baca Juga: Leeyonk Sinatra Rilis Single ‘Egois’, Pertanda Konsisten Berkarya untuk Pengemar

“Tali pengaman harus selalu terikat. Kalau sudah tersengat langsung lepas. Sengatan sekecil apapun jangan dianggap enteng. Langsung lepaskan diri asal tali pengaman telah terikat dengan baik,” ungkapnya.

 

Resiko lain yang lebih berbahaya sempat ia alami. Matanya tercongkel cakar ayam saat memperbaiki tiang lampu. Ia tidak melihat besi cakar ayam karena tertutup dahan pohon mangga yang rimbun. Ketika ia mendongakkan kepala besi itu langsung menyambar matanya. Sukarta harus menjalani operasi pada bola mata.

 

“Saya naik ke tiang, saat menoleh mata saya sudah disenggol cakar ayam. Hari itu juga diambil tindakan operasi. Bola mata saya dijahit sebanyak 7 jahitan. Tepat di bola mata yang putih. Untung tidak buta,” tuturnya.

 

Meski terbilang pekerjaan dengan penuh resiko, Sukarta toh tetap nyaman melakukannya. Kisah menggelitik lainnya diceritakan Sukarta saat ia bertugas di kawasan Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Kala itu ia memperbaiki lampu dan ia harus memasang kabel. Dengan susah payah Sukarta menarik dan membentangkan kabel. Napasnya tersengal. Kabel yang ditarik awalnya berat karena panjang, tiba-tiba menjadi ringan dan dapat ditarik dengan mudah. Ternyata kabel itu putus. Bukan tersangkut, bukan pula sengaja dipotong. Melainkan digigit monyet-monyet yang ada di puncak Wanagiri.

Baca Juga: UPP Kelas II Nusa Penida Gandeng MKP Terapkan E-Ticketing di Pelabuhan  

“Kami sibuk perbaiki kabel dan lampu eh malah monyetnya mainin kabelnya. Putus lagi. Kan kesal, mau marah sama monyetnya juga gak bisa, mereka gak bisa ngomong. Saya tarik, eh ikut narik. Saya tarik lagi eh diputus lagi,” celotehnya diiringi tawa.

 

Tak hanya sekadar menjaga lampu tetap menyala, tetapi juga melibatkan keluarga. Istrinya setia mendampingi. Kebersamaan itu menjadi kekuatan dan pengertian istri terhadap pekerjaan suaminya adalah anugerah. Berkali-kali Sukarta meminta permakluman istri atas pekerjaannya yang terkadang jarang di rumah. Beruntung ia memiliki istri yang mengerti pekerjaannya.

 

“Malam minggu kami berbeda. Tidak seperti keluarga yang lain. Saya malam mingguan sambil piket. Saya ajak keliling dari Liligundi naik ke atas ke Pancasari, turun lagi ke Gitgit, lalu ke Sari Mekar. Begitu mengikuti jalurnya. Kalau urgen sekali istri saya antar pulang dulu baru saya kembali bekerja,” kata dia menutup perbincangan. (dhi)

 

Editor : Wiwin Meliana
#cerita unik #Wayan Sukarta #dishub buleleng #LPJU #teknisi