Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Angka Stunting di Klungkung Catat Penurunan Selama Tiga Tahun Terakhir, Ini Upaya Lintas Sektor yang Dilakukan

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 1 Februari 2024 | 20:32 WIB
Bali Cetak Angka Stunting 6 Persen, Karangasem Tertinggi
Bali Cetak Angka Stunting 6 Persen, Karangasem Tertinggi


KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Dalam pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klungkung, terungkap bahwa angka balita stunting di Kabupaten Klungkung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Khususnya pada tiga tahun terakhir, yakni tahun 2021, 2022, dan 2023.


I Wayan Suardana selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, menjelaskan bahwa stunting merujuk pada kondisi dimana panjang atau tinggi bayi tidak memenuhi standar tinggi per umur.


Ia menyebutkan pada tahun 2021 ada 634 orang balita yang mengalami stunting di Kabupaten Klungkung atau setara dengan 6,5 persen.

 


Kemudian pada tahun 2022 angka tersebut menurun menjadi 595 balita dengan presentase 5,39 persen. Dan di tahun 2023, hingga bulan Agustus 2023 tercatat sedikitnya ada 504 balita yang mengalami stunting atau sekitar 4,77 persen.


Sedangkan untuk angka gizi buruk juga ia terbilang rendah. Yakni di tahun 2021 sebanyak 31 orang atau 0,3 persen. Kemudian di tahun 2022 sebanyak 40 orang atau 0,4 persen dan di tahun 2023 sebanyak 34 persen atau 0,3 persen.


“Kita lihat angka stunting yang signifikan pada tahun 2021, namun mengalami penurunan hingga 2023,” tegasnya Kamis (1/2).

 


Menurutnya penurunan angka balita stunting itu tentunya tidak terlepas dari upaya Pemkab Klungkung untuk menekan kasus stunting. Dimana upaya itu dilakukan secara bersama-sama oleh lintas sektor.


“Di Klungkung dilakukan dengan penguatan organisasi melalui pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dengan sekretariat di Dinas Pemberdayaan Masayarakat dan Pemerintahan, Pengendalian Penduduk dan KB. Kemudian melalui lintas OPD terkait kesehatan, pangan, pertanian, melibatkan lembaga kemasyarakatan seperti PKK dan pemberdayaan desa dan organisasi kemasyarakatan di desa seperti posyandu, PKK dlk beserta para kader,” terangnya.

 

 


Disamping itu juga dilakukan penguatan monitoring dan evaluasi melalui kegiatan audit Stunting secara berkala dan langsung menyasar desa sasaran.


Untuk sektor kesehatan titik beratkan pada upaya spesifik, dengan sasaran penanganan 1.000 hari pertama kehidupan mulai dari kandungan sampai bayi berusia 2 tahun, dengan berbagai upaya diantaranya penyiapan ibu hamil melalui program pendampingan pengantin. Kemudian ada inovasi KASI NIKAH (Kami Siap Menikah) yaitu inovasi pendampingan calon pengantin dari aspek kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan hemoglobin (status anemia) sampai dengan pemberian tablet tambah darah.

 


“Selanjutnya pelayanan kesehatan pada ibu hamil sesuai standar dengan pemeriksaan kehamilan, imunisasi, tambah darah, PMT. Termasuk edukasi dan informasi, pelayanan bersalin agar ibu dan bayi aman dan selamat termasuk mencegah kecacatan, pelayanan bayi baru lahir dan sampai bayi berusia 2 tahun dan atau 5 tahun,” paparnya.


Selain itu juga ada upaya monitoring kondisi kesehatan dan tahapan tumbuh kembang bayi melalui posyandu dan puskesmas, maupun kunjungan rumah, pemberian makanan tambahan (PMT), Imunisasi, konseling gizi, dan layanan primer lain termasuk layanan rujukan ke faskes rujukan.

 


Pemkab Klungkung juga terus menggencarkan program promosi dan preventif stunting dengan menyasar remaja putri yang notabene merupakan calon-calon ibu yaitu siswa SMP dan SMA/SMK memalui kegiatan pemeriksaan hemoglobin untuk mengetahui status anemia, pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk mengurangi angka anemia pada remaja putri sekaligus meningkatkan status gizi.

 


“Kita juga punya beberapa inovasi terkait ini yaitu Chating jus FE (pemberian dan minum TTD (Tablet FE) setiap Jumat dan Sabtu bagi siswi SMP dan SMA serta aksi berisi yaitu kegiatan makanan bergizi bagi siswa atau membiasakan sarapan dengan komposisi gizi seimbang,” sebutnya.


Sayangnya ketika ditanya soal anggaran penurunan angka stunting, Suardana meminta wartawan Bali Express Jawa Pos Group untuk mengkonfirmasi langsung ke Bappeda atau Dinas Pemerintah Desa. “Sebab kegiatan in ikan lintas sektor, jadi tidak bisa disampaikan (anggaran) secara global. Kami di Dinkes tidak bisa mewakili semua kegiatan dan penganggarannya,” tandasnya. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #Upaya #dinas kesehatan #posyandu #stunting #inovasi #klungkung #penurunan