SINGARAJA, BALI EXPRESS-Hasil berbagai quick qount menyebutkan pasangan Capres-Cawapres 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mengungguli pasangan 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Paslon 03, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Menariknya, Bali yang notabene basis tradisional PDI Perjuangan dukungan justru tak mencerminkan dukungan terhadap Paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Meski suara Pileg 2024 ini secara nasional berdasarkan hitung cepat sejumlah Lembaga Quick Qount, PDIP mendulang suara tertinggi termasuk perolehan di Pulau Dewata, namun paslon 03 yang diusung PDIP ini malah diungguli paslon Prabowo-Gibran.
Dosen Komunikasi Politik STAHN Mpu Kuturan, Komang Agus Widiantara, M.I.Kom menjelaskan, dari berbagai analisi ada sejumlah hal yang menyebabkan tidak relate-nya perolehan suara partai PDIP di Bali dengan suara dukungan paslon Ganjar Mahfud pada Pilpres 2024 yang digelar14 Februari lalu.
Menurutnya, Karakteristik Pemilih Gen Z dan milenal memiliki kecenderuangan menyukai pemimpin yang tegas. Hal tersebut terkonfirmasi pada Pemilu 2024 didominasi oleh pemilih dari kalangan generasi z & milenial.
“Dari survey Kompas pasca Pemilihan, pilihan Gen Z dan milenial mendominan pasangan 02 yakni kisaran 54-65 persen di Tingkat nasional. Hal ini juga menjadi representasi pemilihan gen z dan milenial di daerah-daerah, termasuk Bali,” kata Agus Widiantara.
Ia menambahkan, Strategi kampanye kreatif 02 dan figur cawapres yang muda, mampu membius gen z dan milenial. Terlepas beragam gimmick yang dibuat dan masifnya kampanye yang dekat dengan dua generasi tersebut. Pasangan 02 mampu mengambil hati gen z dan milenial.
Pemicu selanjutnya adalah Partai koalisi tidak sepenuhnya berjalan optimal. Mesin-mesin partai di grass root fokus “menjual” Caleg. Fenomena empiric di lapangan terpotret Para Caleg cari aman untuk melenggang ke DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.
Para Caleg dan mesin partai di daerah berpikir pragmatis dan rasional. Ekposur pemberitaan media serta narasi luas di medsos terhadap masing-miisng Capres telah meninabobokan para kader partai dan caleg bahwa public sudah melek terhadap pilihan masing-masing terutama di Bali.
Meskipun rakyat di orkestra untuk memlih salah satu Capres dengan iming-iming bansos, Pembangunan fasilitas tempat ibadah, hingga pendekatan simpul-simpul organ lokal (klan/soroh/pasemetonan) nyatanya, dalam bilik suara, rakyat tidak lagi bisa diinterpensi. Mereka bebas menentukan pilihan.
Harus diakui partai penguasa di Bali memiliki beragam isu dan fenomena blunder. Mulai dari penolakan ajang event bola dunia, narasi petugas partai, dominasi pimpinan partai yang dinilai arogan dan memperlakukan presiden Jokowi tak pantas.
Kondisi ini lantas membuat pemilih dari kalangan genz dan milenial melakukan perlawanan. Termasuk para pencinta Jokowi akhirnya bermigrasi memberikan dukungan ke paslon 02 yang dinilai sebagai capres dan cawapres yang siap melanjutkan program Jokowi.
“Jokowi Effect dan infrastruktur kekuasaan yang cawe-cawe pada 02, tidak banyak mendapatkan perlawanan di Bali. Meskipun capres 01 dan 03 serta pendukungnya melancarkan beragam narasi kritis, toh pada akhirnya tidak berdampak secara maksimal,” singkatnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana