SINGARAJA, BALI EXPRESS – Bibit-bibit cabai tertanam rapi di puluhan petak lahan. Bibit-bibit cabai itu ditanam di lahan seluas 1 hektar di kawasan Kelurahan Banyuasri, Buleleng.
Bibit cabai yang ditanam merupakan bantuan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali.
Proyek ini menggabungkan teknologi modern dengan menciptakan harapan baru bagi petani lokal dalam menghadapi tantangan inflasi dan ketidakpastian harga.
Dengan anggaran Rp 230 juta dari APBN, proyek ini kemudian dijalankan seorang konsultan pertanian Nengah Sumerta, yang sebelumnya telah sukses menerapkan konsep serupa di Baanjar Asah Gobleg, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Lahan pertanian yang dikelola oleh Kodim 1609 Buleleng menjadi tempat implementasi teknologi pertanian dengan pemasangan 162 springkle atau pipa siram.
Smart Farming ini merupakan upaya dalam mewujudkan Agriculture 4.0 yang di dalamnya termasuk digitalisasi.
Dari konsep yang dikembangkan tersebut didalamnya terdapat bagian-bagian yang meliputi kerja petani serta keuntungan yang nantinya diperoleh petani.
Dengan Smart Farming ini petani mendapat banyak kemudahan. Melalui Smart Farming ini, diharapkan petani juga cerdas dalam mengelola kebun serta memanfaatkan teknologi dengan tepat dan menguntungkan.
Untuk teknis pengaplikasiannya, pada lahan telah dipasang instalasi seperti, pipa lengkap dengan air dan media tanam. Kemudian, intalasi tersebut dikombinasikan dengan IoT, yakni berbasis internet (Internet of Things).
Selanjutnya setelah intalasi siap digunakan, maka pengoperasiannya menggunakan jaringan internet dan dapat dikontrol dan dimonitoring via gawai.
Dengan demikian, petani tidak lagi terhalang ruang, jarak dan waktu untuk melakukan pekerjaan di kebun.
“Sangat mudah dan hemat waktu. Untuk dapat memonitoring pekerjaan melalui smartphone, ada aplikasinya.
Masternya saya yang control sementara koneksinya hanya ke ketua kelompok petaninya saja,” ujar Nengah Sumerta, Jumat (1/3) siang.
Teknologi pertanian dengan konsep Smart Farming ini, bukan semata-mata hanya ingin terlihat keren. Namun lebih kepada membantu petani mengatasi permasalahan tanaman.
Namun tentunya dengan cara yang lebih praktis tanpa memakan banyak biaya dan waktu.
Model Smart Farming ini dikembangkan untuk melakukan pencegahan terserang hama terhadap tanaman.
Bila Smart Farming ini berjalan dengan mulus, maka dapat digunakan sebagai media edukasi bagi pelajar hingga petani-petani dari luar Buleleng.
Selain mendapat kemudahan dengan perawatan yang terjadwal, lewat aplikasi yang terinstall di masing-masing smartphone, petani juga bisa mengetahui hasil panen yang akan didapatkan.
Mereka cukup memasukkan data awal dan selanjutnya akan diatur oleh sistem. Aplikasi Smart Farming yang diinstal di handphone juga menyesuaikan dengan kondisi cuaca.
Hal itu mempengaruhi jadwal perawatan yang akan dilakukan oleh petani.
“Secara terjadwal nanti 12 ribu cabai yang ditanam pada 1 hektar lahan ini pemeliharaannya jadi baik. Kalau springkle itu sepertinya jarang akan dipakai, kami gunakan untuk mandiin cabai untuk menetralisir air asam saat hujan. Airnya kami ambil dari sungai Banyuasri.
Ada juga mata air di sini bila tidak bisa ambil air di sungai. Kami akan lebih sering menggunakan irigasi tetesnya untuk penyiraman dan pupuk,” kata dia.
Sejatinya lahan milik Pemkab Buleleng itu memiliki peluang yang kecil untuk dibuat sebagai media tanam. Akan tetapi, pihak konsultan punya jurus ampuh.
Lahan yang cenderung berpasir dengan tipe rawa itu dicampur dengan kompos. Kemudian dikombinasikan dengan pupuk NPK untuk meningkatkan unsur hara tanah.
“Ini lahannya sebenarnya miskin unsur. Jadi kami siasati dulu sebelum melakukan penanaman. Kalau langsung ditanami ya jadi sia-sia nanti,” terangnya.
Teknologi pertanian inilah salah satu solusi untuk menangani permasalahan inflasi. Artinya dengan teknologi pertanian, potensi hasil lebih baik dan kerugiannya lebih kecil.
Dari sistem yang diterapkan ini, Sumerta memprediksi, jika tanaman cabai tumbuh baik, sekitar 8 bulan hasilnya sudah terlihat.
“Sekitar 12 kali panen kira-kira ya. Baru bisa nutup produksi smart farming. Bisa balik modal kalau tidak ada hal mendesak lainnya. Kira-kira ini 2 tahun bisalah menghasilkan,” imbuhnya.
Baca Juga: Gagal Rebut Kursi DPR RI, Sugawa Korry Didorong Maju Pilkada Buleleng, Begini Jawabannya
Lahan milik Pemkab Buleleng ini sudah tidak dimanfaatkan dari tahun 2005. Saat ini lahan tersebut telah bertransformasi menjadi lahan produktif. Rencananya, pemeliharaan dan pengelolaannya dilakukan oleh pasukan hijau atau petugas kebersihan di Kabupaten Buleleng.
“Hasilnya dari mereka dan dijual ke Perumda Pasar Argha Nayottama. Penghasilannya untuk mereka selain dari upah sebagai petugas kebersihan,” ujar Pj. Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana.
Terkait akses masuk, Pemkab Buleleng pun berencana membangun kembali jembatan. Jembatan yang saat ini digunakan masih milik TNI AD dengan status pinjam. Akan tetapi jembatan yang dibuat hanya muat untuk kendaraan roda empat volume kecil.
“Seperti jembatan biasa, cuma tidak untuk truk. Mobil bisa masuk. Tapi dalam konteks mobil itu masuk untuk olahraga atau menikmati city farming,” kata Lihadnyana.(bea)
Editor : Nyoman Suarna