SINGARAJA, BALI EXPRESS - Panen perdana sorgum di Desa Telaga, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi momen penting bagi para petani setempat.
Panen sorgum sejatinya telah dilakukan Jumat, 29 Maret 2024. Namun hingga Rabu, 3 April 2024, prosesnya masih berlangsung.
Petani sorgum, Wayan Suarjana, 55 dan dua rekannya melakukan panen sorgum di lahan seluas 2 hektare.
Panen ini adalah yang perdana setelah lama vakum. Panen juga didampingi Badan Pangan Nasional.
Sorgum yang dipanen sudah ditanam sejak Desember 2023 lalu. Sorgum dirawat layaknya menanam padi, ia juga memberikan nutrisi agar hasilnya maksimal.
Sebenarnya sorgum di Desa Telaga tumbuh subur. Panen terakhir dilakukan sekitar tahun 2015, atau 9 tahun silam.
Kendati demikian, hasil panen yang bagus tidak dibarengi dengan penjualan yang bagus pula.
Para petani sorgum saat itu merugi lantaran tidak ada yang membeli hasil panen. Maka petani saat itu beralih dari tanaman asal Afrika itu ke tanaman padi.
Setelah lama berkutat dengan padi, ternyata keuntungan yang diharapkan juga tidak sesuai.
“Kurang cocok (hasil panennya). Tidak sebagus daerah yang lain,” kata Suarjana sembari memanen sorgum.
Tidak beruntung dalam padi, Suarjana lantas beralih kembali menanam sorgum. Ia juga mengajak dua petani lainnya untuk ikut menanam.
Lama berproses, akhirnya mereka berhasil mengembangkan sorgum seluas 2 hektare. Belum bisa dipastikan berapa kilogram hasil panen perdana mereka.
Belum bisa dipastikan juga berapa keuntungan yang akan diperoleh. Tetapi ketidakpastian itu tak terlihat dari wajah Suarjana.
Ia optimistis kali ini, dengan dukungan dari banyak pihak, sorgum bisa memenuhi harapannya.
Jika itu terjadi, bukan suatu kejutan apabila nanti sorgum akan menghiasi ladang-ladang pertanian di Desa Telaga.
Sorgum, juga dikenal sebagai jagung Buleleng, adalah genus tumbuhan berbunga dari keluarga rumput yang kaya akan nutrisi.
Pertumbuhannya yang subur di wilayah tersebut menjanjikan peluang baru sebagai alternatif pangan lokal dan bahan industri.
Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, turut serta dalam panen tersebut.
Ia menyatakan harapannya agar masyarakat Desa Telaga dapat terbiasa menanam sorgum, mengingat manfaat kesehatan dan potensi pendapatan tambahan yang dimilikinya.
“Produksi beras dibandingkan dengan konsumsi sekarang mulai agak tipis. Jadi salah satu pilihannya adalah bagaimana mendiversifikasi pangan dan komoditas pangan lokal. Yang bisa ditanam di sini adalah sorgum,” katanya sambil memegang tiga batang sorgum yang baru saja dipanen.
Penanaman sorgum telah menjadi fokus di beberapa kecamatan seperti Seririt dan Busungbiu, dengan lahan seluas 30 hektare telah ditanami di Buleleng.
Dengan hamparan sorgum yang tertanam di Buleleng, PT Sorgha Sorgum Sejahtera, telah menyatakan kesiapannya untuk menampung hasil panen sorgum dari para petani di Buleleng.
Permintaan yang tinggi terhadap sorgum dan produksi yang terbatas mendorong perusahaan tersebut untuk memproduksi sorgum sebagai makanan sehat, dengan target pasar utama adalah ekspatriat dan turis asing di Bali.
“Saat ini olahan Sorgum untuk wilayah Bali biasanya didatangkan dari Jakarta. Nanti kalau sudah bisa kita produksi di sini, kita akan masuk ke hotel, restoran, dan kafe. Saya yakin pasti laku,” kata Presiden Direktur PT Sorgha Sorgum Sejahtera, Diana Widiastuti.
Dengan peluang baru ini, diharapkan para petani di Buleleng, khususnya di Desa Telaga, dapat mendapatkan tambahan penghasilan yang signifikan.
Dengan dukungan Badan Pangan Nasional dan perusahaan swasta, sorgum memiliki potensi untuk menjadi salah satu komoditas unggulan di wilayah tersebut, membuka peluang ekspor ke luar negeri dan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. (*)
Editor : I Made Mertawan