SINGARAJA, BALI EXPRESS – Paska peristiwa pemerkosaan yang dialami gadis disabilitas di Buleleng, Pendamping Rehabilitasi Sosial Kemensos RI turun tangan.
Upaya konseling dilakukan bersama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Buleleng.
Gadis berparas ayu itu kini dalam pengawasan yang ketat, sebab ia disebut mengalami depresi berat.
Kondisi psikisnya tidak stabil sehingga mudah tersinggung dengan hal-hal sensitif.
Kondisinya yang tunarungu tunawicara itu membuat upaya pendampingan sedikit terkendala. Terlebih gadis itu tidak ingin bertemu dengan orang baru.
Baca Juga: Curi HP Milik Penumpang di Bandara Ngurah Rai Bali, Karyawan Rentcar Diringkus Polisi
Ia hanya terbuka kepada sahabatnya yang tinggal di dekat rumahnya. Tim pendamping pun terpaksa menggandeng sahabat korban sebagai penerjemah.
Akan tetapi upaya tersebut tidak bisa dilakukan berkelanjutan mengingat sahabat korban mesti bersekolah.
Pendamping Rehabilitasi Sosial, Kemensos RI di Buleleng, Bella Safira Fitriana mengatakan, tim pendamping tengah melakukan pendampingan secara intens terhadap korban.
Kendati demikian, saat ini korban masih tinggal bersama orangtuanya.
Ia pun mengakui upaya konseling tersendat komunikasi mengingat kondisi korban yang disabilitas dan tidak terbuka terhadap orang baru.
“Ahli bahasa isyarat untuk membantu berkomunikasi sebenarnya kami ada. Tetapi korban ini benar-benar tidak mau dengan orang baru. Satu-satunya diam au bicara hanya dengan sahabatnya. Sementara kami tidak dibenarkan jika terus-menerus mengajak sahabat korban ini membantu menerjemahkan. Karena mesti sekolah juga,” kata Bella, Selasa (14/5) siang.
Baca Juga: Aplikasi Balimantap, Solusi Perlindungan untuk Calon Pekerja Migran Indonesia
Bella juga menyebut kondisi korban masih belum stabil.
Ia mengalami depresi berat hingga muncul upaya untuk bunuh diri.
Upaya tersebut beruntung dapat dihalang-halangi oleh keluarganya.
Namun saat upaya bunuh diri itu dilakukan, pihak keluarga belum menyadari bahwa gadis ini telah diperkosa hingga mengandung.
“Sudah mencari tali untuk bunuh diri. Keluarganya tahu perilaku korban dan berusaha menanyakannya. Tapi ketika ditanya kenapa, korban malah ngamuk dan teriak-teriak. Jadinya bapaknya berupaya pelan-pelan bertanya,” ujarnya.
Upaya keluarga mencari tahu penyebab perubahan perilaku korban tidak berhasil kala itu.
Korban juga memilih mengurung diri dalam kamar selama berbulan-bulan sejak Oktober 2023 hingga menjelang tahun baru 2024.
Sesekali bila rumah sepi ia baru keluar kamar.
Baca Juga: BIKIN GERAM! Bule di Bali Menyetir Ugal-ugalan dan Terobos Lampu Merah
Sekolahnya pun terganggu hingga pihak sekolah menanyakan kondisi korban. Namun pihak keluarga beralasan bahwa korban sedang sakit.
“Alasan itu dibuat karena benar-benar keluarga belum tahu saat itu. Pihak sekolah juga maklum karena korban disabilitas dan dia bersekolah di sekolah umum,” ungkapnya.
Pada suatu hari kehamilan korban disadari oleh paman dan bibi korban.
Mereka melihat perubahan fisik korban yang menggendut. Saat diklaim hamil, korban justru teriak-teriak dan mengamuk.
Bahkan ia mengadu kepada ayahnya dan mengatakan kalau dirinya hanya susah BAB. Sang ayah pun dengan sabar menenangkan putrinya.
Dengan sedikit memaksa paman dan bibinya mengajak korban ke salah satu bidan desa.
“Saat itulah terbukti korban hamil. Lalu korban akhirnya bercerita pada sahabatnya dan sahabatnya itu yang bantu menyampaikan ke keluarganya,” tutur Bella.
Diketahui, korban diperkosa sebanyak tiga kali.
Baca Juga: Usai Dilantik, PPK se-Kabupaten Klungkung Langsung Ikuti Bimtek
Pria yang memperkosanya itu masih memiliki hubungan keluarga dengannya.
Saat ini pelaku telah diamankan Polres Buleleng. Pelaku ditangkap Senin (13/5) sore di rumahnya. Kasus ini pun tengah ditangani Unit PPA Polres Buleleng. (dhi)
Editor : Nyoman Suarna