BALI EXPRES- Kasus bunuh diri dua anak yatim piatu Bali di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaka, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung menggemparkan publik.
Pasalnya, kasus kakak beradik asal Kabupaten Buleleng, Bali, Ketut S, 23, dan Putu Y, 4, ini bukan pertama kalinya terjadi di jembatan tersebut.
Berdasarkan catatan Bali Express, Sejak 2018, sudah pernah ada dua kasus bunuh diri di jembatan tersebut.
Pada Sabtu, 4 Desember 2021, seorang prajurit TNI muda bernama I Nyoman Trika Daryanta (22 tahun) mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di Jembatan Bangkung.
Pada 27 Juli 2018, seorang gadis bernama Ni Luh Mayani juga mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jembatan yang sama.
Lalu mengapa jembatan menjadi salah satu tempat yang kerap dijadikan lokasi untuk bunuh diri?
Di Bali, jembatan sebagai penghubung dua daratan yang dipisahkan sungai menjadi lokasi yang diyakini memiliki nilai magis bahkan terkesan angker.
Baca Juga: PARAH! RSPTN Unud Kantongi Rp 250 Miliar Saat Covid-19, Nunggak Remunerasi Karyawan 18 Bulan
Persepsi jembatan sebagai tempat yang angker tak dibantah Jro Mangku Wayan Pada.
Menurutnya, jembatan merupakan tempat yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat makhluk halus.
Sehingga, biasanya saat lewat, pengendara mobil maupun sepeda motor membunyikan klakson.
Kepada Bali Express, Jro Mangku asal Tabanan ini menyebut bahwa setiap jengkal tanah di bumi, tentu ada penghuninya.
“Pada prinsipnya adalah kehati-hatian kita. Jangan gegabah dan merasa sombong sebagai manusia. Jika kita tidak berhati-hati dalam melangkah, bisa saja kita menginjak semut, serangga, dan lainnya. Jadi harus hati-hati,” ujarnya.
Ia melanjutkan, alasan jembatan dipersepsikan angker karena beberapa sebab.
Misalnya, kata dia, jembatan adalah bagian dari jalan yang menghubungkan dua daratan yang dipisahkan sungai atau laut.
Menurutnya, jalan di Bali dipercaya juga dilalui makhluk selain manusia. Misalnya bhuta kala.
Selain itu, sedemikian banyak peristiwa yang memakan korban di jalan. Misalnya ada yang meninggal kecelakaan.
“Jadi, jalan dipenuhi oleh banyak memori-memori yang tak hanya kesenangan, namun juga kesedihan. Memori ini kemudian menimbulkan aura positif dan negatif. Bagi orang yang sensitif, maka pada waktu tertentu seperti sandikala tak disarankan berseliweran di jalan karena aura ini rentan melekat. Contohnya bayi, agar tak diajak bermain di jalan pada waktu yang dianggap tenget juga,” terangnya.
Itu sebabnya pula, kata dia, material bekas bongkaran jalan raya tak dibolehkan diambil dan dipasang di rumah. Misalnya batu, aspal, beton, dan sebagainya.
Editor : Wiwin Meliana