SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kabar meninggalnya kakak adik yatim piatu Bali, Ketut Sutama, 23 dan Putu Yasa, 5 telah didengar masyarakat desa.
Keduanya dikenal sebagai saudara yatim piatu. Kedua orangtuanya telah meninggal karena sakit 5 tahun lalu.
Almarhum ayahnya Nyoman Sumarta meninggal terlebih dahulu. Satu tahun kemudian, sang ibu Made Anggraini juga meninggal.
Paska kepergian kedua orangtuanya itu Ketut Sutama dan Putu Yasa hidup bersama kakaknya Luh Somatini, 33.
Kondisi Luh Somatini yang disabilitas membuat Ketut Sutama maju sebagai tulang punggung keluarga.
Salah satu tetangganya, Luh Suniari mengatakan, Ketut Sutama dulunya lulusan SMKN 3 Singaraja mengambil jurusan teknik mesin.
Setelah lulus, ia tidak melanjutkan kuliah lantaran kondisi ekonomi cekak.
Ia kemudian bekerja di salah satu bengkel. Tidak lama ia lantas mengundurkan diri dengan alasan ingin fokus merawat adik bungsunya. Terlebih, adiknya dikabarkan sakit-sakitan.
"Cuma sakit apa saya kurang tahu. Dulunya sempat kerja untuk menanggung kebutuhan keluarga, dia, kakaknya dan adiknya," kata Suniari yang sekaligus staf Desa Bontihing, Senin (27/5) siang.
Setelah berhenti dari pekerjaannya, Ketut Sutama akhirnya beralih profesi sebagai tukang servis elektronik di desa Bontihing.
Ia kerap memperbaiki televisi milik warga desa ataupun barang elektronik lainnya.
"Kalau ada kerusakan dia ditelepon untuk memperbaiki," ujarnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Bontihing, I Gede Pawata mengakui kondisi keluarga Ketut Sutama yang kurang mampu.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, almarhum mesti bekerja. Kabar terakhir, Ketut Sutama dikatakan sempat membeli satu liter bensin untuk mengisi tangki sepeda motor.
Saat itu ia juga mengajak adiknya. Tidak ada yang menyangka almarhum akan pergi ke lokasi kejadian dan mengakhiri hidupnya.
"Saat itu dia akan memperbaiki televisi pemilik warung Made Warka. Tapi dia beli bensin dulu seliter, ngebon. Kemungkinan hasil servis televisi itu yang akan digunakan untuk membayar nanti. Tetapi jalan yang ditempuh berbeda," kata Pawata.
Konon, sejak ditinggal orangtuanya, mereka hidup bertiga.
Sebenarnya, mereka bersaudara 5, namun saudara keduanya meninggal saat masih balita dan saudara ketiganya telah menikah. Tetapi jarak rumahnya lumayan jauh.
Sebelum meninggal, tidak ada tanda apa pun.
Hanya saja Perbekel Parwata merasakan keanehan. Menurutnya ketika akan ada seseorang yang meninggal, anjing di sekitaran rumahnya kerap melolong seperti memberikan kabar.
"Anjing itu melolong. Ini saya rasakan secara pribadi. Tanda-tanda itu selalu terdengar dari dulu. Saya menyadari itu, tapi saya tidak tahu siapa yang akan pergi," ujarnya. ***