BALIEXPRESS.ID - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Menparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno, menyoroti maraknya bule berulah di Bali lantaran konsumsi alkohol yang berlebihan.
Dalam wawancaranya, ia menegaskan perlunya penegakan hukum yang lebih ketat untuk menjaga ketertiban dan keamanan destinasi wisata tersebut.
"Kalau mereka hilang kesadaran karena mengkonsumsi alkohol berlebihan, ya dia bisa melakukan kegiatan yang bisa melanggar hukum dan norma. Ada yang sampai melepas baju dan sebagainya, mungkin di negaranya dia nggak begitu," katanya dalam agenda kunjungan di Badung, Jumat (14/6).
Ia menekankan bahwa pengusaha pariwisata harus bertanggung jawab untuk mengingatkan wisatawan mereka tentang batasan konsumsi alkohol dan perilaku yang dapat diterima.
Sandiaga Uno juga mengakui bahwa para wisatawan memiliki peran penting dalam mempromosikan Bali dan Indonesia ke negara mereka masing-masing.
"Mereka ini adalah perwakilan dari pengusaha di bidang tour and travel, jurnalis, youtuber, maupun key opinion leader. Potensinya sangat luar biasa," tambahnya.
Meski jumlah wisatawan yang dideportasi relatif kecil dibandingkan dengan total kunjungan, Sandiaga Uno menyatakan pentingnya tindakan tegas terhadap mereka yang melanggar hukum.
"Dari 11,7 juta kunjungan wisatawan, yang dideportasi hanya 340 (orang). Jadi sangat sedikit jika dibandingkan dengan wisatawan yang berkunjung," tegasnya.
Sandiaga Uno juga menyoroti perbedaan karakteristik wisatawan dari berbagai pasar besar seperti Eropa Tengah, Amerika Tengah, dan Timur Tengah, yang umumnya menghargai budaya lokal dan berdampak positif pada ekonomi kreatif Indonesia.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemantauan dan penindakan hukum harus ditingkatkan, mengingat tingginya jumlah wisatawan yang datang setiap hari.
“Kita harus memastikan Bali dan destinasi lainnya adalah tempat yang patuh terhadap aturan kita. Penggunaan narkoba dilarang dan akan ditindak sangat berat kalau narkoba. Kalau alkohol apapun yang bisa memicu perilaku yang melanggar hukum harus dibatasi dan dipantau," katanya.
Menparekraf juga menyoroti pentingnya komunikasi dan pelatihan bagi pelaku industri pariwisata dalam menangani masalah ini.
"Pengusaha pariwisata harus memberi tahu wisatawannya tentang batasan konsumsi alkohol. Di beberapa destinasi kelas dunia yang lebih berkualitas mereka ada batasan. Begitu melampaui orderan, waiter atau bartendernya menyampaikan ‘no you have enough, too much’," jelas Sandiaga.
Disinggung terkait kasus wisatawan yang berbicara buruk tentang IKN di media sosial, Sandiaga Uno mengingatkan pentingnya menghormati adat istiadat dan pejabat setempat.
"Dimana langit dipijak, di situ bumi dijunjung. Hormatilah. Kalau ada di suatu negara, kita juga nggak datang bicara buruk tentang pemerintahannya, sistemnya, kalau mereka di Indonesia ya hormatilah," tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna