Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Turut Lestarikan dengan Ngayah, De Gadjah Ramaikan Tradisi Mageret Pandan di Tenganan Dauh Tukad Karangasem

Rika Riyanti • Rabu, 26 Juni 2024 | 20:58 WIB
Ketua DPD Gerindra Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah  ikut mageret pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, Selasa, 25 Juni 2024.
Ketua DPD Gerindra Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah ikut mageret pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, Selasa, 25 Juni 2024.

BALIEXPRESS.ID- Seolah tak pernah absen, Ketua DPD Gerindra Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah kembali datang ke Desa Adat Tenganan Dauh Tukad.

Kedatangannya De Gadjah ini untuk ngayah dalam tradisi perang atau mageret pandan yang dilaksanakan pada Selasa, 25 Juni 2024.

Menariknya, De Gadjah juga mendapatkan kesempatan untuk ngayah mageret pandan yang kebetulan bertepatan dengan hari otonanannya, Anggara Pon, Wuku Klawu.

"Ya hari ini otonan juga, momen yang spesial juga bagi saya. Tadi sebelum berangkat keluarga sangat mendukung agar saya ngayah dulu, setelah itu baru nanti melaksanakan otonan di rumah," ungkap pria bertubuh kekar itu.

Ia mengaku sedikitnya telah 3 kali datang untuk ngayah mageret pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad ini.

Awal mula keikutsertaannya dalam tradisi Desa Tenganan Dauh Tukad itu dimulai dari keinginannya untuk ngayah dengan datang sendiri sekitar 3 tahun lalu.

Kemudian tahun berikutnya, ia mendapat kehormatan diundang dan begitu juga sekarang, ia diminta hadir untuk turut serta ngayah dalam tradisi mageret pandan.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini sejalan dengan instruksi dari Ketua Umum Gerindra sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto dalam upaya menjaga dan melestarikan tradisi adat budaya Bali.

Menurutnya, dengan terlibat langsung dalam tradisi ini, ia merasa memiliki ikatan emosional serta merasakan sensasi yang sangat luar biasa saat mengikuti tradisi yang dimaknai sebagai penghormatan Dewa Indra tersebut. 

Sementara itu, Kelian Desa Adat Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna mengatakan tradisi mageret pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad sebagai simbol penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang.

Ia meyakini para pendahulu di desa tersebut adalah prajurit perang yang tangguh sehingga inilah yang menjadi sejarah dan erat kaitannya dengan penghormatan kepada dewa perang yaitu Dewa Indra.

Terkait dengan hadirnya tokoh De Gadjah serta ikut juga ngayah mageret pandan, Tisna mengaku sangat mengapresasinya.

Seperti yang disampaikan, tujuan lain di balik ngayah ini adalah pelestarian serta mendukung keberlangsungan dan menjaga tradisi yang ada di Desa Tenganan Dauh Tukad yang merupakan desa tua di Karangasem.

"Saya sangat mengapresiasi kedatangan tokoh politik dan sosok sosial seperti beliau. Beliau setiap tahun hadir ngayah, tujuannya juga kami sangat apresiasi untuk mendukung dan menjaga tradisi yang ada," kata Tisna.

Di sisi lain, kehadiran tokoh untuk ngayah dalam tradisi perang pandan dipandang cukup mendapatkan respons dari masyarakat.

Mereka sangat antusias baik hanya untuk sekadar menyapa maupun berfoto dengan anggota DPRD Bali terpilih itu.

"Mengingat sosok beliau ini merupakan figur yang selalu hadir di masyarakat, dan sehingga warga pun senang beliau hadir, tadi auranya juga luar biasa saya sampai ngeri-ngeri menonton," ungkap Ketua DPC Gerindra Karangasem, I Nyoman Suyasa yang juga hadir menyaksikan tradisi tersebut. (*)

Editor : I Made Mertawan
#perang pandan #bali #gerindra bali #Tenganan Dauh Tukad #karangasem #De Gadjah #mageret pandan