BALIEXPRESS.ID - Setelah mengalami kebakaran gudang logistik Pusdalops BPBD Bali pada Rabu (26/6), Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra memastikan pelayanan BPBD Bali tidak mengalami gangguan.
“Pelayanan tidak boleh terganggu,” tegas Sekda Dewa Indra saat mengecek langsung lokasi kebakaran.
Ia meminta agar segera dilakukan penanganan pasca kebakaran seperti berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk pemanfaatan gudang logistik milik Kementerian Kesehatan yang ada di Kuta.
Pihaknya juga meminta kepada BPBD Bali agar berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk pengecekan struktur gedung setelah kebakaran.
Termasuk melakukan perencanaan pembangunan gedung kembali dengan mekanisme pergeseran anggaran untuk keperluan mendesak.
Sebelumnya Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Made Rentin dalam keterangan persnya kepada awak media menjelaskan kronologi kebakaran yang menghanguskan lantai dua gudang logistik tersebut.
Diterangkan Made Rentin, kejadian kebakaran pertama kali diketahui oleh Sekretaris BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya bersama seorang staf dan satpam yang melihat kepulan asap pada bagian atas gedung berlantai dua tersebut. Tiga personil BPBD kemudian melakukan upaya pemadaman dengan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
“Mereka membuka pintu dan langsung menuju sumber api di lantai dua, namun karena asap begitu pekat, APAR tidak efektif dan kami langsung mengontak Damkar Kota Denpasar,” urainya.
Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, Damkar Kota Denpasar dengan gerak cepat menerjunkan tiga armada sehingga api berhasil dijinakkan dalam waktu 1 jam dan 20 menit.
“Pemadaman api sudah tuntas pada pukul 13.20 wita dan tidak sampai merembet ke lantai satu,” ujarnya.
Patut diketahui bahwa pada saat kejadian gudang dalam keadaan kosong dari petugas karena seluruh personil Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Bali sedang melaksanakan pelatihan simulasi tanggap darurat di Margarana, Tabanan.
Lebih jauh Made Rentin menginformasikan, kerugian yang timbul akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp7,9 miliar.
“Kerugiannya kami sudah inventarisir. Untuk gedung diperkirakan senilai Rp. 1 miliar dan logistik yang terbakar mencapai Rp6,9 miliar,” sebutnya.
Dugaan awal, kebakaran dipicu percikan api yang bersumber dari korsleting listrik.
“Itu dugaan awal kami karena instalasi listrik di gudang logistik memang sudah lama dan usang. Percikan api cepat membesar mengingat di gudang banyak tersimpan material yang mudah terbakar seperti kasur dan masker yang merupakan bantuan donatur saat penanganan Covid-19, terbanyak dari Temasek Singapura,” bebernya.
Ia juga meyakini kejadian ini murni musibah dan tak ada indikasi kecurigaan yang mengarah kepada siapapun. Selanjutnya, BPBD Bali akan fokus pada penanganan dan pembersihan pasca musibah kebakaran.
Sejalan dengan itu, Kalaksa BPBD Bali juga berkoordinasi dengan BPKAD terkait status asuransi gedung yang terbakar.
“Kita akan kroscek apakah gedung ini diasuransikan. Jika ia, tentu ini hal positif untuk kita tindak lanjuti,” tambahnya.
Pada bagian lain, Made Rentin juga menginformasikan bahwa BPBD Bali telah berencana melakukan renovasi terhadap gudang logistik tersebut.
“Gudang itu memang sudah lama, dibangun tahun 2013 dengan bantuan Kemendagri. Kami sudah lapor ke Bapak Sekda dan Pak Gubernur dan memang sudah direkomendasi untuk renovasi total,” ujarnya. ***
Editor : Y. Raharyo