BALIEXPRESS.ID – Nusa Penida merupakan bagian dari Kabupaten Klungkung di Bali, bukan hanya destinasi wisata yang mempesona, tetapi juga kaya akan sejarah dan budaya yang unik.
Salah satu keistimewaan pulau ini adalah adanya pura-pura yang terkenal dengan nuansa mistis, seperti Pura Goa Giri, Pura Puncak Mundi, Pura Dalem Ped, Pura Mobil, dan Pura Krangkeng. Pada artikel ini, kita akan menelusuri sejarah dan keunikan Pura Dalem Krangkeng yang berada dekat dengan Pura Puncak Mundi.
Dilansir dari nusapenida.org, Nusa Penida juga memiliki sejarah yang menarik untuk ditelisik. Sejarah Nusa Penida bermula pada abad ke-10. Bukti tertua tentang pulau ini ditemukan pada Pilar Belanjong yang berasal dari tahun 914 M, mencatat ekspedisi militer Raja Bali pertama, Sri Kesari Warmadewa, yang menaklukkan Nusa Penida.
Masyarakat pulau ini mampu melawan berbagai ekspedisi militer dari raja-raja Bali, hingga akhirnya pada paruh kedua abad ke-17, Nusa Penida ditaklukkan oleh Dinasti Gelgel. Raja terakhir Nusa Penida, Dalem Bungkut, gugur dalam pertempuran.
Setelah penaklukan ini, Nusa Penida menjadi bagian dari istana Klungkung, salah satu dari sembilan kerajaan di Bali. Ketika Bali diintegrasikan ke Hindia Belanda pada tahun 1908, yang kemudian menjadi Indonesia, Nusa Penida tetap menjadi bagian dari Kabupaten Klungkung.
Sebuah peta Belanda yang dibuat pada tahun 1900 menyebut Nusa Penida sebagai "Pulau Bandit". Ini disebabkan oleh sejarah di mana Kabupaten Klungkung sering mendeportasi penjahat, lawan politik, dan ahli ilmu hitam ke pulau ini, menciptakan reputasi yang buruk. Nama "Nusa Penida" sendiri berarti "pulau pendeta" dalam bahasa Bali, lebih baik dibandingkan dengan julukan yang diberikan oleh Belanda.
Legenda menyebutkan bahwa Raja terakhir Nusa Penida, Dalem Bungkut, telah berubah menjadi sosok Ratu Gede Mas Mecaling, seorang dewa bertaring emas yang ditakuti. Menurut cerita, Mecaling diasingkan ke Nusa Penida karena praktik ilmu hitamnya. Ia dikenal sebagai penyihir yang sering mengirim penyakit dan wabah ke Bali sebagai balas dendam.
Salah satu legendanya menyebutkan bagaimana Mecaling, yang menyamar sebagai Barong, menyerang Bali saat perayaan Nyepi, yang kemudian menjadikan Nyepi sebagai hari hening dan meditasi di seluruh Bali.
Nyepi yang hening dan tenang menjadi cara masyarakat Bali untuk membodohi setan agar tidak kembali. Penduduk Nusa Penida mengikuti tradisi Nyepi dengan ketat. Pura Dalem Krangkeng sendiri dianggap sebagai tempat penjara bagi roh-roh jahat. Masyarakat percaya bahwa roh-roh yang melakukan kejahatan kejam selama hidupnya akan dihukum di pura ini, membuat mereka sulit untuk dilahirkan kembali ke dunia.
Baca Juga: Video Intim Pelajar di Buleleng Viral: Gunakan Seragam Olahraga Salah Satu Sekolah di Bali Utara
Setelah peristiwa serangan Mecaling, pendeta Bali memanggil Barong untuk mengusir Mecaling kembali ke Nusa Penida. Hingga kini, Pura Ped Temple di Nusa Penida masih mempertahankan semangatnya.
Pura ini juga menjadi tempat ziarah bagi yang mencari perlindungan dari kejahatan dan penyakit. Setiap umat Hindu di Bali setidaknya sekali dalam seumur hidupnya harus berziarah ke Pura Ped di Nusa Penida untuk mencapai keseimbangan antara yang negatif dan yang positif, guna mencapai ketenangan dan harmoni. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana