Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Banyuning: Disebut Monaspathika dari bahasa Sansekerta, Percaya Roh Gaib di Pohon dan Batu Besar

Dian Suryantini • Rabu, 31 Juli 2024 | 00:31 WIB
BANYUNING: Sebelum bernama Banyuning, salah satu desa di Buleleng ini disebut dengan Monaspathika. Masyarakatnya percaya terhadap roh gaib di pohon dan batu besar.
BANYUNING: Sebelum bernama Banyuning, salah satu desa di Buleleng ini disebut dengan Monaspathika. Masyarakatnya percaya terhadap roh gaib di pohon dan batu besar.

BALIEXPRESS.ID - Banyuning, sebuah desa yang kaya sejarah, awalnya dikenal dengan nama Monaspathika.

Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Mona yang berarti diam atau hening, dan Spathika yang berarti air.

Secara harfiah, Monaspathika dapat diartikan sebagai air yang hening.

Sejarah mencatat Desa Monaspathika sudah ada sejak abad ke-13.

Pada masa itu, masyarakatnya memiliki keyakinan kuat terhadap keberadaan roh gaib yang bersemayam di pohon-pohon besar dan batu-batu besar.

Kepercayaan ini mendorong mereka untuk membangun Pura Pemaksanan, yang sekarang dikenal sebagai Pura Gede Pemayun.

Selain itu, terdapat pula Pura Pemaksan lainnya seperti Pura Pemaksan Kangin dan Pura Pemaksan Kauh, yang diberi nama Pura Kerta.

Seiring berjalannya waktu, ketika Mpu Kuturan datang ke Bali, berdirilah Pura Kayangan Tiga, yaitu Pura Desa/Bale Agung, Pura Dalem, dan Pura Segara.

Desa Monaspathika semakin berkembang, meskipun beberapa bagiannya mengalami perubahan.

Bagian utara desa ini disebut Subak Kayu Pas karena air di daerah tersebut mengandung racun yang berasal dari pohon-pohon sekitar, sehingga membuat tempat itu terkenal.

Di bagian selatan ada Subak Padangkeling. Dinamai demikian karena ada orang Kalingga yang menyingkir ke selatan akibat ketidaksepakatan dengan raja Monaspathika.

Bagian timurnya disebut Subak Jati karena banyak pohon jati yang ditebang oleh orang-orang Bebetin untuk membuat pondok di daerah yang dikenal sebagai Kubujati.

Bagian timur lainnya adalah Tukad Buus yang diubah menjadi sawah dan diberi nama Subak Banyuning.

Menurut Prof. Berandes, sejarahwan Belanda pada tahun 1868, Monaspathika terdiri dari kata Mona yang berarti "ning" dan Spatika yang berarti "berkilau" atau "berobat," mirip dengan istilah "Yeh Ning." Nama tersebut kemudian berubah menjadi Banyuning.

Editor : Nyoman Suarna
#pohon besar #Monaspathika #roh #gaib #sejarah #Banyuning #batu besar