Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menelusuri Sejarah Desa Menyali; Desa Tertua di Kecamatan Sawan, Kisahnya Ada Dua Versi

Dian Suryantini • Kamis, 1 Agustus 2024 | 18:59 WIB

Wajah penari Janger Menyali yang menjadi ikon tradisi di Desa Menyali
Wajah penari Janger Menyali yang menjadi ikon tradisi di Desa Menyali

BALIEXPRESS.ID - Desa Menyali, sebuah desa yang kaya akan sejarah dan budaya, memiliki beberapa versi mengenai asal-usulnya yang berkembang di masyarakat.

Salah satu versi yang populer adalah cerita yang disampaikan oleh I Ketut Suamba, seorang tokoh masyarakat setempat.

Menurutnya, Desa Menyali pada awalnya bernama "Pahit Hati". Nama ini dikaitkan dengan makna kata "Nyali" atau "Empedu", yang merupakan bagian dari organ pencernaan manusia yang rasanya pahit.

Baca Juga: Bule Ngamuk di Bedugul Bali; Ganggu Pengendara dan Serang Petugas Polisi

Sebelum dikenal sebagai Pahit Hati, desa ini dinamakan "Basang Alas".

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa pada saat bernama Pahit Hati, Desa Menyali diperintah oleh Pasek Sakti Batu Lempang.

Pada masa itu, Desa Menyali meliputi wilayah-wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jagaraga, Sangsit, dan Bungkulan.

Ketut Suamba memperkirakan bahwa perubahan nama dari Pahit Hati ke Menyali terjadi sekitar tahun 1920-an, mungkin sekitar tahun 1924 atau 1934.

 Baca Juga: Perumda Dharma Santika Target Transaksi Capai Rp 2 Miliar Per Bulan dari Jaringan Marriot

Melihat berbagai informasi dan catatan sejarah tentang Desa Menyali, dapat disimpulkan bahwa desa ini adalah salah satu desa tertua di Kecamatan Sawan, mengungguli Desa Jagaraga, Bungkulan, dan Sangsit.

Versi lain dari sejarah berdirinya Desa Menyali menyebutkan bahwa desa ini dulunya bernama "Ume Nyale".

Nama ini terinspirasi oleh letak Desa Menyali yang "Nyalah" (tanggung) di antara desa-desa sekitarnya.

Karena posisi semacam itu, daerah Menyali yang dulunya adalah hamparan uma (sawah atau tegalan) dinamai Uma Nyalah yang pada akhirnya lebih dikenal dengan Umanyali atau Menyali.

 Baca Juga: Acara Tiga Hari di Denpasar: Beritakan Kabar Baik! Hadirkan Kabar Positif dan Motivasi

Dari segi topografi dan demografi, Desa Menyali memiliki luas wilayah 4,27 km² dengan populasi penduduk mencapai 5.344 jiwa.

Jumlah ini terdiri dari 2.691 laki-laki dan 2.653 perempuan. Sebagian besar penduduk desa ini (± 36% dari penduduk produktif) berprofesi sebagai petani, memanfaatkan lahan basah dan subur yang cocok untuk areal persawahan.

Selain bertani, sekitar ± 21% dari penduduk desa ini berkecimpung dalam dunia kerajinan.

Beberapa kerajinan yang dihasilkan termasuk seni tabuh (pembuatan rindik, tingkelik, gerantang, kebyur, dan lain-lain), pembuatan batu bata, kerajinan pengobatan alternatif sengat lebah, dan yang paling populer adalah kerajinan "bokor".

Selain bertani dan berkarya dalam kerajinan, sekitar ± 15% penduduk Desa Menyali juga berkebun dan beternak.

Pekebunan yang berkembang di desa ini meliputi kopi, coklat, kelapa, rambutan, dan durian Bangkok, sedangkan peternakannya mencakup pemeliharaan sapi, ayam, dan babi.

 Baca Juga: Indeks Bisnis UMKM BRI Triwulan II 2024: Bisnis UMKM Mulai Membaik dan Prospektif

Desa Menyali terdiri dari dua Banjar yang masing-masing dipimpin oleh seorang perbekel (kepala desa). Kedua Banjar tersebut adalah Banjar Dinas Kawanan dan Banjar Dinas Kanginan.

Banjar Dinas Kawanan terdiri dari empat tempekan, yaitu kelompok masyarakat yang biasanya beraktivitas dalam kegiatan desa, baik itu dalam upacara Dewa Yadnya, Manusia Yadnya, dan lain sebagainya. Keempat tempekan ini adalah Tempekan Campurasa, Tempekan Pancayasa, Tempekan Eka Sila, dan Tempekan Kajanan, yang sering disebut sebagai "tinggi kelod" dan "tinggi sampingan".

Sementara itu, Banjar Dinas Kanginan terdiri dari lima tempekan, yaitu Tempekan Dharma Karya, Tempekan Tamansari, Tempekan Kubuanyar, Tempekan Paninjoan, dan Tempekan Tri Tunggal. Masing-masing banjar dipimpin oleh seorang Kelian Banjar.

 Adat istiadat di Desa Menyali diatur oleh Kelian adat setempat, yang memastikan bahwa tradisi dan budaya desa tetap terjaga dengan baik.

 Baca Juga: Indeks Bisnis UMKM BRI Triwulan II 2024: Bisnis UMKM Mulai Membaik dan Prospektif

Desa Menyali bukan hanya sebuah tempat dengan sejarah yang kaya, tetapi juga sebuah komunitas yang hidup dan berkembang dengan berbagai aktivitas ekonomi yang beragam. Dari pertanian, kerajinan, hingga peternakan, penduduk desa ini terus berupaya menjaga warisan budaya mereka sambil membangun masa depan yang lebih baik. (dhi)

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#bali #desa tua #Desa Menyali #sejarah #buleleng