Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Sejarah Desa Pedawa; Desa Tua di Buleleng, Sebelumnya Bernama Desa Gunung Tambleg

Dian Suryantini • Kamis, 1 Agustus 2024 | 19:10 WIB

Masyarakat desa Pedawa yang sedang melakukan tradisi mapetokan
Masyarakat desa Pedawa yang sedang melakukan tradisi mapetokan

BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Pedawa, yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan salah satu desa adat tua dengan sejarah panjang yang sebagian besar diwariskan melalui cerita turun temurun.

Sebelumnya, desa ini dikenal dengan nama Desa Gunung Tambleg karena leluhurnya berasal dari Tamblingan.

Beberapa penduduk Tamblingan bermigrasi ke wilayah lain, termasuk Pedawa, akibat serangan musuh atau bencana alam.

 Baca Juga: Menelusuri Sejarah Desa Menyali; Desa Tertua di Kecamatan Sawan, Kisahnya Ada Dua Versi

Wilayah Pedawa telah dihuni sejak zaman Megalitikum, yang dibuktikan dengan penemuan beberapa sarkofagus.

Selain itu, terdapat taulan, gaingan, dan rumah taksu sebagai tempat pemujaan sebelum era sejarah.

Pura Telaga Waja juga memiliki gundukan tanah suci yang dikenal sebagai pengempelan, tempat pemujaan Ida Batara Pengempelan, Rambut Siwi, dan Gunung Raung.

 Baca Juga: Bule Ngamuk di Bedugul Bali; Ganggu Pengendara dan Serang Petugas Polisi

Budaya di Desa Adat Pedawa memiliki berbagai keunikan. Dahulu, desa ini tidak mengenal prajuru adat atau bendesa.

Namun, pada tahun 1985, dibentuklah prajuru adat untuk membantu penghulu yang sudah tua dan hanya memahami huruf Bali.

 Masyarakat Pedawa tidak mengenal Kahyangan Tiga, melainkan dangkaian desa dengan enam tempat pemujaan.

Upacara dilakukan dengan sistem lelintih nemugelang, bukan odalan seperti di tempat lain. Mereka juga memiliki gong selonding yang berbeda dari gong kebyar.

 Baca Juga: Perumda Dharma Santika Target Transaksi Capai Rp 2 Miliar Per Bulan dari Jaringan Marriot

Permainan tradisional seperti gangsing, mecikal-cikalan, tajog, dan babar pangkung juga masih ada di Pedawa.

Masyarakatnya dikenal sebagai petani aren, menyadap getah aren untuk dijadikan gula yang menjadi ikon Pedawa.

Namun, seiring perkembangan zaman, banyak yang beralih ke kopi dan cengkeh, serta buah-buahan seperti durian dan manggis.

Masyarakat Pedawa dahulu jarang minum kopi dengan jajanan seperti di kota, tetapi mereka minum kopi bersama gula aren yang dimakan langsung.

Baca Juga: Acara Tiga Hari di Denpasar: Beritakan Kabar Baik! Hadirkan Kabar Positif dan Motivasi

Ketela pohon, keladi, dan ubi juga menjadi makanan pokok. Makanan khas lainnya adalah jaje buah bunut, sate keladi, dan bandut.

Sate keladi terbuat dari keladi yang dikukus, kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu, lalu dikepalkan pada tusuk sate. Saat ini, sate keladi dikreasikan dengan tambahan daging atau ikan.

Hubungan Pedawa dengan Prasasti Sanding berangka tahun 1072 caka (1150) mencatat Raja Jaya Sakti yang bersemayam di Gunung Lempuyang sering mengunjungi daerah ini.

Raja Jaya Sakti juga memiliki pesanggrahan di bantiran dekat Pedawa. Cerita turun temurun menyebutkan bahwa dahulu mayat orang Pedawa tidak dikubur, melainkan dimasukkan ke lubang pohon atau disemayamkan di bawah pohon dengan hiasan bunga kembang sepatu.

 Baca Juga: Acara Tiga Hari di Denpasar: Beritakan Kabar Baik! Hadirkan Kabar Positif dan Motivasi

Suatu ketika, Raja Bima bersama pendeta Dukuh Manca Bila meminta agar mayat dikubur di Gunung Sari.

 Sejak itu, mayat mulai dikubur dan diupacarai. Setelah Raja Bima kembali ke kerajaannya, Dukuh Manca Bila tetap tinggal di Gunung Sari dan dibuatkan pelinggih di Jaba Pura Dalem yang bernama Pelinggih Dukuh.

Dalam pewayangan, Sang Bima adalah keluarga Pandawa, sehingga masyarakat Pedawa dianggap keturunan Bima.

Sementara itu, Gobleg keturunan Dharmawangsa, Tigawasa Arjuna, Cempaga Nakula, dan Sidatapa Saha Dewa. Gunung Sari kemudian dikenal sebagai Pandawa, yang berubah menjadi Pedawa. (dhi)

 

Editor : Wiwin Meliana
#desa pedawa #bali #tamblingan #desa tua #sejarah #buleleng