BALIEXPRESS.ID - Rasa takut menghantui seorang sopir transport konvensional bernama Jeffrianus Vendy Funhy, 30. Gara-gara, sang sopir sempat rebutan penumpang.
Ia menjadi korban pengeroyokan, bahkan diancam akan dibunuh di depan Savaya Bleach Club, Jalan Belimbing Sari, Pecatu, Kuta Selatan, Badung, pada 9 Juli 2024.
Namun hingga kini, para pelaku belum diamankan polisi.
Alhasil sampai sekarang sopir transport tersebut tak bisa bekerja secara normal karena trauma dan ketakutan.
Menurut penuturan Jeffrianus, dirinya bekerja sebagai sopir di CV Blimbing Sari Transport.
"Jadi CV tersebut bermitra dengan Savaya Club, dan saya adalah driver lokal yang bekerja di sana," tutur Jeffrianus didampingi Kuasa Hukumnya Gregorius Suri, Sabtu (3/8).
Sebelum kejadian, korban pun bekerja pada malam harinya di kawasan Savaya Club. Kala itu Jeffrianus mendapatkan tamu atau penumpang seorang laki-laki yang sedang mengajak perempuan.
Wisatawan tersebut pun sepakat menggunakan jasa korban untuk mengantar ke tempat tujuannya dengan tarif Rp 100 ribu.
Namun, pelaku berinisial S tiba-tiba datang merayu tamu yang perempuan dengan harga Rp 50 ribu.
Hal itu membuat tamu perempuan mengajak pergi laki-lakinya untuk naik mobil pelaku karena lebih murah.
Padahal wisatawan ini sudah ada deal dengan korban. Aksi main serobot itu pun membuat Jeffrianus merasa tidak terima dan menegur pelaku.
"Jadinya saya bilang ke pelaku S, bro ini tempat mangkal saya, kamu mungkin tidak kenal saya tetapi kami kan sesama dari Timur, masak kamu buat cara (serobot, red) seperti itu. S ini tidak masuk dalam CV, dia liar entah taksi online atau bagaimana, kami biarkan saja namanya cari makan semua, tapi jangan pakai cara serobot begitu," tambahnya.
Karena ditegur, pelaku sontak mengatakan kepada korban agar bawa saja tamu tersebut kalau merasa tidak puas.
Hanya saja, Jeffrianus tidak bisa lagi membawa customer yang diserobot itu, karena dia merasa tamu akan berpandangan dirinya sengaja memasang tarif lebih mahal.
Berikutnya, korban yang masih tidak puas mengikuti pelaku ketika mengantar pelanggan.
Setelah tamu itu diantar ke tempat tujuannya, korban terlibat cekcok mulut dengan S.
"Waktu cekcok, saya bilang ini tempat mangkal saya lho, teman-teman saya banyak di sini saya bilang begitu. Pelaku jawab, iya kamu kan sering main keroyok, kalau kamu tidak puas kau tunggu saya di sini, kata dia begitu," ucapnya.
Setelah pertikaian ini, pria yang sudah sekitar dua tahun menjadi sopir transport itu lanjut bekerja.
Tak disangka S benar-benar datang mengajak puluhan temannya ke tempat kejadian perkara (TKP).
Pergantian peristiwa ini membuat Jeffrianus merasa panik. S lantas mengajak duel. Korban menjawab, kalau ingin berkelahi jangan membawa teman sebanyak itu, karena menduga akan dikeroyok.
Sopir transport tersebut sempat merekam wajah-wajah orang-orang itu dan mengirimnya ke grup WhatsApp. Lalu, korban lanjut ditarik paksa keluar oleh S. Teman-teman pelaku bahkan memprovokasi dengan kata-kata "bunuh saja dia".
Sehingga, Jeffrianus berusaha menyampaikan agar teman-teman pelaku memahami akar permasalahan terlebih dahulu dan jangan bertindak barbar sampai berucap bunuh orang karena dalam jumlah banyak.
Belum selesai berbicara, pelaku S tiba-tiba menendang korban sampai terjatuh. Teman-teman ikut mengeroyok, baik dengan tangan kosong ataupun memakai senjata berupa tongkat besi.
"Saya hampir mati itu, parah juga, kepala dan tangan-tangan saya kena pukulan besi, saya berdarah-darah di sana. Hp saya juga jatuh dan mereka juga bawa kabur itu, ada SIM A dan ATM juga hilang," tandasnya.
Tidak ada yang bisa melerai karena para pelaku disebut dalam jumlah yang sangat banyak.
Setelah mengeroyok, mereka pun pergi. Tetapi para pelaku sempat menyampaikan bahwa mereka tak takut apabila dilaporkan ke polisi.
Usai berobat, korban dan keluarganya membuat laporan ke Polsek Kuta Selatan.***
Editor : Y. Raharyo