Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Tonja, Gegara Eks Raja Bali yang Ditaklukkan Majapahit Tersandung Batu dalam Pelariannya

Y. Raharyo • Minggu, 4 Agustus 2024 | 00:51 WIB
Pura Desa dan Puseh Desa Tonja, Denpasar Timur.  Desa Tonja memiliki sejarah panjang.
Pura Desa dan Puseh Desa Tonja, Denpasar Timur. Desa Tonja memiliki sejarah panjang.

BALIEXPRESS.ID - Tonja saat ini merupakan nama desa adat dan kelurahan di Denpasar Timur, Denpasar, Bali. Desa ini merupakan desa tua di Denpasar dengan perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Dilansir dari website Kemendikud dan Denpasarkota.go.id, dijelaskan dalam Babad Dalem Batu Selem (sesuai Ilikita Desa Adat Tonja), nama Desa Tonja ternyata berkaitan dengan saat keruntuhan Kerajaan Bedahulu, yang menjadi pusat kekuasaan di Bali.

Dikisahkan, pada tahun 1250 Saka atau 1328 Masehi, Bali dipimpin seorang raja bernama Dalem Batu Ireng, yang juga dikenal dengan gelar Raja Asta Sura Ratna Bhumi Banten.

Dalem Batu Ireng merupakan Raja Kerajaan Bedahulu yang beristana di Pejeng/ Bedulu, Bedahulu, Gianyar. 

Pada masa pemerintahannya, Dalem Batu Ireng didampingi oleh beberapa patih dan punggawa, seperti Ki Pasung Grigis, Ki Buahan, Ki Tunjung Tutur, Ki Kalung Singkal, dan Ki Gudung Basur.

Kerajaan Bali pada waktu tidak tunduk kepada Kerajaan Majapahit, yang menyebabkan kemarahan Raja Majapahit. Untuk menundukkan kerajaan di Bali, Raja Majapahit mengutus Patih Gajah Mada.

Dalam pertempuran tersebut, kerajaan Bali berhasil ditaklukkan.

Hal ini memaksa Raja Dalem Batu Ireng untuk melarikan diri ke berbagai tempat seperti Jagat Taro, Gegel, Batuyang, Batubulan, Bukut Kali, Batu Belig Kalanggendis, Taman Yang Batu, dan Batu Bida.

Selama pelariannya, ia disembunyikan oleh Pasek Bendesa, Pande, dan warga setempat lainnya.

Dalam pelariannya, Dalem Batu Ireng menyamar sebagai rakyat biasa dan bertemu dengan I Gusti Ngurah Bongaya di perempatan Desa Pagan yang sedang mengadakan upacara yadnya.

Karena ingin mengetahui keadaan upacara tersebut, Dalem Batu Ireng memutuskan untuk mampir ke Pura Desa Adat Pagan. Namun, penampilannya yang buruk rupa dan acak-acakan membuat juru canang pura terkejut dan berteriak "Tonya," sehingga dianggap mengganggu jalannya upacara.

Dalem Batu Ireng kemudian diusir oleh I Gusti Ngurah Bongaya dan warga lainnya. Merasa marah, Dalem Batu Ireng mengutuk I Gusti Ngurah Bongaya agar desa tersebut menjadi "tas-tas" atau pecah, yang menyebabkan keributan dan putusnya hubungan antara warga desa sebelah utara Pura Desa.

Dalam perjalanan ke utara setelah diusir, kaki Dalem Batu Ireng tersandung batu di wilayah Ajungut-jungut, yang sekarang dikenal sebagai wilayah Banjar Tega.

Batu tersebut dipastu oleh Dalem Batu Ireng agar menjadi Bhumi Tonjaya. Dari sinilah asal-usul nama Desa Tonja, yang berasal dari kata "ketonjok" (ke + tonjok) yang artinya tersandung.

Dan dari ketonjok kemudian menjadi "Tonja," yang merujuk pada perjalanan Dalem Batu Ireng yang kakinya tersandung batu.

Selain itu, sejarah Banjar Tatasan juga memiliki asal-usul yang unik. Nama ini berasal dari kata "tas-tas," sebagai hasil dari kutukan Dalem Batu Ireng yang disebut "tonya" setelah diusir oleh I Gusti Ngurah Bongaya beserta warganya.

Kutukan tersebut membuat desa yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Bongaya menjadi "tas-tas" atau pecah, terutama penduduk di sebelah Pura Desa, sehingga terjadi keributan dan putusnya hubungan.

Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, Banjar Tatasan kemudian mengalami pemekaran menjadi dua banjar, yaitu Banjar Tatasan Kaja dan Tatasan Kelod. ***

Editor : Y. Raharyo
#bali #kerajaan bedahulu #Desa Tonja #dalem batu ireng #sejarah #Tonja