BALIEXPRESS.ID - Pasar Badung yang terletak di jantung Kota Denpasar, Bali, bukanlah sekadar tempat berbelanja.
Pasar ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Bali, sebuah pusat peradaban yang telah mengalami pasang surut zaman.
Sebelum dikenal sebagai Pasar Badung, tempat ini lebih dikenal sebagai Pasar Payuk.
Nama ini merujuk pada para perajin periuk dari Desa Binoh Ubung yang menjajakan hasil kerajinan mereka di sini.
Pasar Badung telah menjadi pusat perdagangan sejak zaman kerajaan.
Konon, para raja memanfaatkan pasar sebagai sarana berkumpul dan menyampaikan informasi kepada rakyat.
Tukad Badung, sungai yang mengalir di dekat pasar, menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah, yaitu Perang Puputan Badung.
Konon, sungai ini menjadi lintasan pasukan Belanda dalam peristiwa tersebut.
Pada awal abad ke-20, lokasi pasar dipindahkan ke tempat sekarang.
Pasar Badung mengalami beberapa kali renovasi dan perubahan bentuk, dari pasar tradisional menjadi bangunan bertingkat modern.
Sayangnya, pada tahun 2016, Pasar Badung mengalami musibah kebakaran yang meluluhlantakkan hampir seluruh bangunannya.
Setelah kebakaran, Pasar Badung dibangun kembali dengan desain yang lebih modern dan fasilitas yang lebih lengkap.
Pasar Badung adalah pusat perekonomian Denpasar. Di sini, Anda bisa menemukan segala jenis barang, mulai dari bahan makanan segar, pakaian, kerajinan tangan, hingga perlengkapan rumah tangga.
Selain sebagai pusat ekonomi, Pasar Badung juga merupakan pusat budaya Bali.
Di sini, Anda bisa merasakan keramahan masyarakat Bali dan menyaksikan berbagai aktivitas budaya.
Pasar Badung menjadi salah satu destinasi wisata yang populer bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana pasar tradisional Bali.
Pasar Badung adalah cerminan dari sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Bali.
Dari masa lalu hingga masa kini, pasar ini selalu menjadi tempat yang penting bagi masyarakat Bali.
Dengan sejarah yang panjang dan perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat, Pasar Badung layak untuk dikunjungi dan ditelusuri sejarahnya.
Editor : Nyoman Suarna