Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Perang Puputan Badung: Ungkap Perlawanan Raja dan Rakyat demi Harga Diri, Begini Rangkaian Peristiwanya

Nyoman Suarna • Jumat, 16 Agustus 2024 | 00:15 WIB
RAJA BADUNG: Jenazah Raja Badung yang gugur dalam perang Puputan Badung dijaga rakyat dan diawasi tentara Belanda.
RAJA BADUNG: Jenazah Raja Badung yang gugur dalam perang Puputan Badung dijaga rakyat dan diawasi tentara Belanda.

BALIEXPRESS.ID-  Pada tanggal 20 September 1906 terjadi pertumpahan darah antara rakyat Badung (Denpasar) dengan Belanda  yang dikenal dengan Perang Puputan Badung

Seratus delapan belas tahun silam suara tembakan meriam dan bedil Belanda membahana di seluruh  Badung (kini Denpasar).

Belanda menghujami sejumlah pusat kerajaan di Denpasar yang tidak mau tunduk kepadanya.

Perang itu dipicu oleh tuntutan ganti rugi Belanda terhadap Raja Badung yang dituding melanggar Hak Tawan Karang.

Rakyat Sanur dituduh telah merampas sebuah skunar (kapal) bernama Sri Kumala dari Banjarmasin yang terdampar di Pantai Sanur.

Kapal yang katanya memuat tekstil, gula pasir, terasi dan pis bolong (uang kepeng) ini kepunyaan saudagar Tionghoa bernama Lie Tek Bun.

Atas kerugian tersebut, utusan Belanda yang juga residen Bali-Lombok bernama F.A. Liefrinck meminta uang pengganti sebesar tiga ribu enam ratus ringgit.

Namun Raja Badung Gusti Ngurah Made Agung menolak mentah-mentah tuntutan itu karena rakyat Sanur sama sekali tidak merusak apalagi merampas isi kapal.

Justru sebaliknya, rakyat Sanur telah memberi pertolongan terhadap awak kapal yang nyaris tenggelam.

Penolakan tersebut  membuat Belanda marah. Dalam perundingan, utusan Belanda mengancam dengan mengatakan, “Tunggulah, apa yang akan datang nanti.”

Raja Badung cukup paham dengan ancaman tersebut, apalagi  dengan dikeluarkannya surat ekspedisi militer oleh pemerintah Belanda tertanggal 4 September 1906.

Raja dan rakyat Badung pun sepakat menolak tegas ultimatum Belanda. Karena itu, tanggal 14 September 1906, Belanda yang berkekuatan 3.053 orang, di antaranya 2.313 militer dan 741 sipil termasuk wartawan perang mendarat di Pantai Sanur.

Dari atas kapal De Hertog Hendrik, Belanda menggempur Badung dengan meriam yang diarahkan ke tiga keraton yaitu Puri Kesiman, Puri Denpasar dan Puri Pemecutan.

Dalam perang yang cukup melelahkan itu, satu demi satu puri (kerajaan Badung) berhasil dikuasai Belanda.

Setelah menguasai Puri Kesiman, pada 20 September pukul 08.00  Belanda menggempur pusat kerajaan di Puri Denpasar.

Pukul 09.00 Raja Badung memerintahkan membakar Puri Denpasar.

Kemudian pukul 11.00, raja, rakyat dan keluarga puri keluar dari puri untuk mengadakan perlawanan.

Bersenjatakan tombak  dan keris, laskar Badung bergerak ke arah batalyon ke-11 Belanda.

Dalam jarak 300 meter, Belanda memberi tembakan peringatan dan imbauan berhenti melalui penterjemah, tetapi laskar Badung terus bergerak.

Sampai jarak 100 hingga 70 meter dari kedudukan pasukan Belanda, raja dan laskar Badung lari sekencang-kencangnya untuk menerjang Belanda dengan senjata keris dan tombak.

Saat itulah pasukan Belanda melepas tembakan salvo sehingga membuat laskar Badung dan raja gugur.

Setelah menguasai Puri Denpasar, Belanda melanjutkan penyerangan ke arah Puri Pemecutan sekitar pukul 15.00.

Baca Juga: Dapat Peringatan Keras dari Jokowi soal MRT, Sekda Bali: Terima Kasih!

Waktu itu, laskar Puri Pemecutan dipimpin raja I Gusti Gde Ngurah Pemecutan berkumpul dengan keluarga dan para punggawa di puri yang sudah dibakar sebelumnya.

Dengan pakaian perang, laskar Pemecutan ini siap menyambut serangan Belanda.

Raja yang diusung dengan tandu berserta seluruh laskar Pemecutan bergerak menyongsong Belanda.

Dalam jarak yang cukup dekat, laskar Pemecutan menerjang ke arah Belanda.

Namun sayang, Belanda yang bersenjatakan bedil berhasil mematahkan serangan laskar Pemecutan.

Raja dan laskar Pemecutan gugur, dan Pukul 18.00 Puri Pemecutan telah diduduki Belanda.

Laskar yang tersisa tidak melanjutkan perang karena raja mereka telah gugur semua.

Menurut catatan sejarah, sedikitnya 7.000 orang dari laskar Badung tewas dalam perang Puputan tersebut.

Namun demikian, jiwa Puputan itu tak boleh surut dari hati nurani rakyat Bali.

Semangat Perang Puputan yang berarti perang sampai titik darah penghabisan harus tetap dipertahankan.

Dalam perang tersebut, Badung memang kalah dalam teknologi, tetapi spirit puputan Badung harus tetap hidup dalam hati sanubari masyarakatnya.

Editor : Nyoman Suarna
#Puputan badung #sejarah #raja #perang