Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Masuknya Islam di Karangasem: Berkaitan dengan Suku Sasak di Lombok hingga Huru-hara di Tulamben

Nyoman Suarna • Minggu, 18 Agustus 2024 | 23:46 WIB
PANTAI TULAMBEN: Sejarah masuknya Islam di Karangasem tak terlepas dari peran suku Sasak di Lombok dan huru-hara di Tulamben, yaitu perang melawan bajak laut.
PANTAI TULAMBEN: Sejarah masuknya Islam di Karangasem tak terlepas dari peran suku Sasak di Lombok dan huru-hara di Tulamben, yaitu perang melawan bajak laut.

BALIEXPRESS.ID - Masuknya agama Islam ke Karangasem bermula dari hubungan antara raja-raja di Karangasem dan Lombok. Penyebarannya dilakukan oleh orang-orang Sasak.

Menurut buku “Islam di Bali, Sejarah Masuknya Agama Islam ke Bali”, kekuasaan Dalem Waturenggong yang kemudian diwariskan kepada putranya Dalem Sagening (1580 – 1665) meliputi wilayah Bali, Lombok dan Sumbawa.

Saat itu wilayah Karangasem yang masih menjadi kekuasaan Kerajaan Gelgel dipercayakan kepada I Dewa Anom Pemayun.

Buku yang digandakan Bidang Bimas Islam dan Penyelenggara Haji Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Bali mengungkap, peristiwa penting dari upaya penyebaran Islam pada masa itu adalah terjadi huru-hara di Tulamben.

Huru-hara tersebut terjadi antara Ki Pasek Tulemben (bawahan Dewa Anom Pemayun) dengan bajak laut yang diperkirakan dari Sumbawa atau Bugis (Makasar).

Diperkirakan, kontak dengan pengaruh Islam di Karangasem sudah terjadi pada masa ini karena Dalem Waturenggong pernah mengadakan perjanjian dengan Makasar di bawah pemerintahan Sultan Allaudin soal wilayah kekuasaan.

Penyebaran Islam tahap berikutnya di Karangasem terjadi ketika Kerajaan Pejanggik di Lombok menjadi kerajaan besar yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Majapahit, sekitar abad XVII.

Hubungan ini dibuktikan dengan didatangkannya rombongan transmigran dari Klungkung untuk menjadi tukang kayu dan tukang masak kerajaan.

Pada masa pemerintahan Raja Pembanmas Meraja Kusuma, agama Islam mulai berkembang di Kerajaan Pejanggik.

Salah satu senopati terbesar kerajaan bernama Banjar Getas adalah keturunan Arya Gajah Para dari Kerajaan Gelgel.

Hubungan diplomatis ini berdampak terjadinya transmigrasi orang-orang Sasak yang beragama Islam ke beberapa kampung di Karangasem seperti Bukit Tabuan, Kampung Anyar, Karang Sasak, Tibulaka, Karang Sokong, Kecicang, Saren Jawa, Karang Langko dan Kampung Ampel.

Beberapa mubalig yang membantu penyebaran Islam di Karangasem di antaranya Sayid Hassan Al Idrus yang tinggal di Subagan Telaga Mas, Sayid Syech Almulakhela di Karang Langko.

Mubalig Abdullah Bin Salim Bagarib yang berasal dari Tarem, Arab Selatan diperkirakan datang ke Karangasem pada tahun 1859.

Beberapa pendatang Islam yang bertujuan berniaga adalah Fiddahussin Djiwakhandji dari Udjein, India Tengah yang datang tahun 1916.

Selanjutnya, Djiwadjirasuji dari Mandar Rajastan, India Utara datang tanggal 19 November 1918, Ali Husein Rasul Bhay dari Udjoin, India Tengah datang tahun 1920.

Keberadaan Islam pada masa itu juga dibuktikan dengan bangunan masjid yang ada di Karangasem seperti di Ujung, Karang Langko, Nyuling, dan Dangin Sema.

Di samping itu juga dibuktikan dari hubungan solidaritas antara raja dan umat Islam. Contohnya, setiap Lebaran, Raja Karangasem memberi sumbangan minyak kepada umat Muslim.

Sebaliknya, apabila umat melaksanakan ibadah haji ke Mekah, raja membantu memberikan dana.

Dalam bidang sosial, masyarakat Islam Dangin Sema, Nyuling dan Subagan masih memiliki ikatan yang disebut Pauman, yaitu sebidang tanah yang diberikan raja untuk wakaf bagi anggota Pauman.

Sebagai gantinya, jika ada upacara adat di puri (kerajaan), para anggota pauman membantu pekerjaan.

Editor : Nyoman Suarna
#Sasak #suku #sejarah #karangasem #islam #Tulamben #lombok