Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Desa Banyuseri: Bermula dari orang Sakti Bersemedi hingga Muncul Sumber Air

I Putu Mardika • Kamis, 22 Agustus 2024 | 03:13 WIB

Desa Banyuseri Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng
Desa Banyuseri Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Banyuseri adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Sejarah Desa Banyuseri mencerminkan perkembangan masyarakat di Bali Utara, yang memiliki pengaruh dari kerajaan-kerajaan Bali kuno, terutama dari kerajaan Buleleng.

Pada awalnya, wilayah Desa Banyuseri adalah hutan belantara yang belum tersentuh. Suatu hari, muncul seorang yang sangat sakti di daerah tersebut, dan asal-usulnya tidak diketahui. Kehadiran orang sakti ini menarik perhatian penduduk dari daerah lain yang kemudian datang dan menetap bersamanya.

Para penduduk mulai membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian. Namun, wilayah itu kemudian mengalami kekeringan yang parah akibat musim kemarau panjang, sehingga penduduk kesulitan mendapatkan air bersih.

Orang sakti tersebut lalu memimpin penduduk untuk berjalan ke ujung selatan desa. Di sana, mereka diajak untuk bersemedi dan memohon agar muncul sumber air di wilayah itu. Akhirnya, di bagian selatan desa, muncul sebuah mata air yang oleh penduduk setempat disebut "Banu," yang berarti air.

Air ini digunakan untuk berbagai keperluan seperti minum, mandi, dan kebutuhan lainnya. Karena air ini membawa kesejukan dan keindahan, penduduk menamainya "Sri," yang berarti kesejukan dan keindahan.

Wilayah ini kemudian diberi nama "Banusri," dan orang sakti tersebut diangkat sebagai pemimpin dengan gelar Demung, sementara patihnya diberi gelar Kasogatan. Seiring berjalannya waktu, nama Banusri disederhanakan menjadi Banyuseri, yang kemudian menjadi nama desa ini.

Nama Banyuseri diperkuat dengan penemuan prasasti desa oleh seorang penduduk. Prasasti ini terdiri dari tujuh lempeng perunggu, satu lontar, dan satu set gambelan. Dalam prasasti tersebut, tertulis nama Desa Banusri sebagai salah satu desa tua di Bali.

Sebagai des atua, Banyuseri memiliki tradisi Mekelin dalam ritual kematian. Dalam ritual Mekelin ini, tidak menggunakan sarana seperti bade atau wadah, lembu, dan dawang-dawang sebagai pengantar jenazah ke kuburan, melainkan menggunakan pepaga.

Di Desa Adat Banyuseri, kremasi jenazah dianggap tabu. Hal ini didasarkan pada keyakinan masyarakat desa adat bahwa membakar jenazah dapat menyebabkan abu jenazah beterbangan ke tempat-tempat suci, yang akan mengotori (sebel) area-area tersebut.

Sarana utama dalam upacara Mekelin di Banyuseri adalah babi jantan berwarna hitam. Penggunaan babi ini terkait erat dengan kepercayaan masyarakat bahwa upacara Mekelin akan sempurna jika menggunakan babi sebagai bagian dari sarana ritual.

Babi hitam menurut kepercayaan Desa Banyuseri melambangkan Dewa Wisnu. Babi tersebut harus sehat dan tidak boleh memiliki cacat.

Jika sarana babi belum tersedia, maka upacara Mekelin belum dapat dilaksanakan, karena banten yang tidak diisi dengan daging babi dianggap belum lengkap. Masyarakat meyakini bahwa tanpa menggunakan babi sebagai sarana, pelaksanaan upacara Mekelin tidak bisa dilakukan karena dapat berdampak fatal secara niskala.

Apabila masyarakat ingin melaksanakan upacara Mekelin, mereka harus mencari hari baik (padewasan) dengan meminta petunjuk dari Kelian Adat. Bagi masyarakat Banyuseri, upacara Mekelin dapat dilaksanakan pada hari Senin Pahing Warigadean, Wrespati Pon Uye, Sukra Umanis Merakih, Sukra Pahing Matal, dan Sukra Wage Kuningan.

Sedangkan hari-hari Kala Gotongan yaitu Sukra Kliwon, Saniscara Umanis, Redite Paing, dan Semut Sedulur seperti Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon sangat dihindari karena diyakini dapat membawa dampak buruk bagi orang yang diupacarai maupun bagi yang melaksanakan upacara tersebut.

Setelah padewasan ditetapkan, kentungan ngoncang dibunyikan sebagai tanda memberi bekal kepada orang yang meninggal dan juga sebagai pertanda bahwa upacara Mekelin untuk orang tersebut akan segera dilaksanakan.

Selanjutnya, keluarga yang bersangkutan menghubungi orang suci yang akan memimpin upacara tersebut (mesadok) dengan membawa banten apengayatan. Proses awal dari upacara Mekelin ini sama dengan mreteka orang meninggal (sawa prateka) seperti: nundun, nyiramang, dan ritual lainnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #banyuseri #Banjar #buleleng