BALIEXPRESS.ID – Penemuan kerangka manusia yang telah rapuh serta sarkofagus di Desa Mengening, Buleleng, Bali disikapi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XV Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tim BPK XV Bali melakukan pendokumentasian terhadap benda kuno yang ditemukan pada Minggu (18/8) itu.
Tim BPK XV Bali, Wayan Gede Yadnya mengatakan, sarkofagus tersebut diperkirakan berasal dari zaman megalitikum di masa prasejarah, menguatkan indikasi pentingnya wilayah ini dalam konteks sejarah Bali kuno.
Ciri dari zaman megalitikum dikenal dengan budaya batu besar. Namun sarkofagus yang ditemukan di Desa Mengening itu memiliki ukuran kecil, yakni 45 x 35 cm.
Ukuran itu dipandang sebagai ukuran paling kecil dari sarkofagus yang biasanya ditemukan. Seperti, di wilayah Selemadeg, Tabanan, dan Kabupaten Bangli.
Hal ini menandakan adanya variasi dalam ukuran dan tipe sarkofagus di Bali, yang mungkin mencerminkan perbedaan waktu atau penggunaan dalam tradisi megalitik.
“Temuan ini kemungkinan dari zaman prasejarah. Dan ini merupakan tradisi budaya manusia pada zaman itu, yang didominasi batu besar seperti teras berundak dan arca,” ungkapnya, Rabu (21/8).
Melihat dari bentuk dan ukurannya itu, tim BPK memperkirakan tradisi sistem penguburan mayat di Desa Mengening kala itu dilakukan hingga masa sejarah Bali Kuno.
Mayat-mayat yang dikubur menggunakan peti batu itu adalah tokoh masyarakat atau orang-orang yang berpengaruh di masa itu.
Dengan penemuan ini, Desa Mengening semakin menunjukkan potensinya sebagai situs penting dalam penelitian arkeologi dan sejarah Bali.
Tim dari BPK XV Bali dan NTB terus melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap lebih banyak informasi mengenai temuan ini.
“Sebenarnya ranah kami adalah pelestarian dan pendokumentasian. Terkait penelitian dan kepastian benda kuno itu ada di ranah yang berbeda,” kata dia.
Diberitakan sebelumnya, sarkofagus atau peti mati dari batu ditemukan di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Sarkofagus itu ditemukan oleh seorang warga, Ketut Suasana.
Benda kuno itu ditemukan saat ia menggali tanah akan membangun penyengker pura. Tiba-tiba cangkulnya membentur benda keras seperti batu. Di dalamnya terdapat tulang manusia dewasa yang sudah rapuh. Benda lain seperti guci dan besi juga terdapat di dalamnya. ***
Editor : Y. Raharyo