Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Nyambu, Tabanan; Berawal dari Perang Akibat Menghina Raja Mengwi Berjenggot seperti Kambing

Y. Raharyo • Jumat, 6 September 2024 | 00:58 WIB
Sejarah Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali.
Sejarah Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Nyambu, yang terletak Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki sejarah yang kaya akan kisah persahabatan, perseteruan, dan keberanian.

Dikutip dari website Desa Nyambu, disebutkan bahwa sejarah atau legenda desa ini bermula dari hubungan antara dua kerajaan besar pada masanya, yaitu Kerajaan Mengwi di bawah kekuasaan Anak Agung Ringkus dan Kerajaan Kaba-Kaba yang dipimpin oleh Arya Belog.

Kedua kerajaan ini awalnya menjalin persahabatan yang sangat erat, sering kali saling mengunjungi sebagai bentuk keakraban. Namun, sebuah peristiwa kecil memicu perpecahan dan memunculkan konflik yang mengubah sejarah desa ini.

Pada suatu hari, Raja Mengwi dan rakyatnya melakukan kunjungan persahabatan ke Kerajaan Kaba-Kaba.

Di perbatasan wilayah, mereka disambut dengan hangat oleh rakyat Kaba-Kaba. Sambil beristirahat, rakyat dari kedua kerajaan yang bertetangga itu berbincang mengenai berbagai hal, termasuk kesejahteraan rakyat dan kepemimpinan raja mereka masing-masing.

Namun, dalam suasana yang tampaknya damai itu, muncul sebuah pernyataan yang mengubah segalanya. Salah seorang rakyat Kaba-Kaba bercanda bahwa Raja Mengwi memiliki jenggot atau janggut yang sangat panjang seperti kambing.

Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai lelucon, rakyat Mengwi tidak menerimanya sebagai hal yang lucu.

Mereka menganggapnya sebagai penghinaan terhadap rajanya dan melaporkannya kepada Anak Agung Ringkus.

Lokasi kejadian ini kemudian dikenal sebagai Dusun Kebayan, yang berarti "tempat Raja Mengwi di-Kabayanin" atau dihina.

Mendengar laporan tersebut, Raja Mengwi merasa terhina dan murka. Sebagai bentuk balasan, ia mengirim utusan ke Kerajaan Kaba-Kaba, meminta 17 kepala rakyat Kaba-Kaba sebagai tebusan atas hinaan tersebut.

Jika permintaan ini ditolak, hubungan persahabatan di antara mereka akan berakhir dan berubah menjadi permusuhan.

Raja Kaba-Kaba dengan tegas menolak permintaan itu. Baginya, ucapan rakyatnya hanyalah sebuah candaan dan bukan alasan untuk menuntut balas.

Selain itu, Raja Kaba-Kaba juga menekankan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena memang Raja Mengwi memiliki janggut panjang seperti domba. Penolakan ini memicu perang besar antara kedua kerajaan.

Pertempuran pertama berlangsung di daerah utara, sebuah lokasi yang strategis namun hanya berupa padang ilalang. Daerah ini awalnya dikenal sebagai Dusun Perang, tetapi setelahnya berganti nama menjadi Dusun Carikpadang.

Dusun Carikpadang inilah yang menjadi bagian pertama Desa Nyambu, dan tempat pertama yang diserang oleh pasukan Kerajaan Mengwi.

Pertempuran tidak berhenti di Carikpadang. Pasukan Kerajaan Mengwi terus menyerang ke selatan, di daerah yang sekarang dikenal sebagai Dusun Nyambu. Nama "Nyambu" berasal dari kata "nyambung," yang menggambarkan perang yang terus bersambung dari satu wilayah ke wilayah lain.

Di tempat ini, rakyat Kaba-Kaba dengan gagah berani mempertahankan tanah mereka dari serangan pasukan Mengwi.

Seiring berjalannya waktu, wilayah ini menjadi saksi keberanian rakyat Kaba-Kaba yang rela mempertaruhkan jiwa raga demi mempertahankan tanah air mereka. Oleh karena itu, lokasi tersebut kemudian dinamakan Dusun Tohjiwa, yang berarti "tempat mempertaruhkan jiwa."

Selain itu, ada pula Dusun Mundeh, yang merupakan wilayah tertua di Desa Nyambu sebelum adanya Kerajaan Kaba-Kaba. Dusun ini dulunya bagian dari wilayah Tanah Lot, dan menurut legenda, Dang Hyang Dwijendra, tokoh spiritual Bali yang terkenal, mengirim 15 pendeta ke daerah ini.

Mereka mendirikan sebuah pemukiman di sekitar Mundeh, yang kemudian berkembang menjadi Dusun Dukuh, tempat para pendeta melakukan aktivitas keagamaan.

Namun, dari sejarah Desa Nyambu yang dibeberkan website desa tersebut masih belum selaras dengan fakta sejarah. Sebab, Arya Belog mulai membangun Kerajaan Kaba-Kaba setelah penaklukan Bali oleh Majapahit.

Majapahit mengalahkan Bali pada 1343 Masehi. Kemudian Sri Aji Kresna Kepakisan baru diangkat jadi raja pada 1350 Masehi.

Sedangkan Kerajaan Mengwi dengan Raja I, I Gusti Agung Made Agung baru berdiri pada akhir Abad XVII atau tahun 1690-an. 

Mungkin, yang dimaksud dari dua kerajaan ini adalah keturunan Arya Belog dan keturunan dari Raja Mengwi I. Memang, dalam sejarahnya, Kerajaan Kaba-Kaba pernah ditaklukkan Kerajaan Mengwi. 

Sedangkan Raja Mengwi bernama Anak Agus Ringkus juga masih jadi pertanyaan, itu nama sebenarnya atau gelar/ julukan. Sebab, tidak Raja Mengwi tidak ada yang bernama demikian.

Dikutip dari Babad Kaba-Kaba, disebutkan perang pertama yang meletus di Kerajaan Kaba-Kaba adalah perang saudara dari dua anak raja Kaba-Kaba II. Yakni antara ketika Kyai Buringkit, sang adik melakukan yang menyerang kakaknya, Raja Kaba-Kaba III, Arya Anglurah Kaba-Kaba. Dari perang itu, muncul nama-nama dusun seperti Tegal Pegulungan, Perang (Carikpadang), hingga Dekdekan.

Dalam perjalanannya, ketika Kerajaan Mengwi muncul pada akhir abad ke-17 sampai abad ke-19, juga sempat menaklukkan Kerajaan Kaba-Kaba. ***

Editor : Y. Raharyo
#bali #Desa Nyambu #sejarah #tabanan