BALIEXPRESS.ID - Desa Sumberkima, yang terletak di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, menyimpan sejarah unik yang berasal dari kisah para leluhur dan saksi mata pada masa awal pembentukannya.
Dilansir dari website desa, sejarah Desa Sumberkima ini berawal dari sekitar tahun 1936, ketika wilayah ini masih berupa hutan belantara yang belum tersentuh oleh peradaban manusia.
Kisah tentang bagaimana desa ini diberi nama dan didirikan berasal dari para pelaut ulung dari Pulo (Bugis), Sulawesi Selatan, yang melakukan perjalanan panjang untuk mencari hasil laut dan menemukan sebuah tempat yang belum mereka kenal sebelumnya.
Para pelaut tersebut, yang dikenal sebagai penjelajah laut berpengalaman, tiba di sebuah tanjung yang indah dan mempesona.
Dari kejauhan, mereka melihat lekukan pantai dengan pasir putih dan dikelilingi oleh panorama alam yang asri.
Tempat tersebut, yang kini dikenal dengan nama Tanjung Rijasa, terletak di Banjar Dinas Pegametan. Para pelaut pun memutuskan untuk berlabuh di sana.
Namun, setelah berlabuh, mereka menghadapi tantangan besar: ketiadaan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti minum, memasak, dan mandi, mereka mulai menyisir sepanjang pantai mencari sumber air tawar.
Dalam sebuah keajaiban, mereka menemukan semburan air yang muncul dari pecahan-pecahan kerang kima.
Ajaibnya, meskipun lokasi tersebut berada di tepi laut, air yang keluar terasa tawar dan segar.
Karena sering mengambil air di tempat itu, mereka menamainya "Sumber Kima," yang berarti sumber air dari kerang kima. Nama inilah yang kemudian menjadi asal-usul Desa Sumberkima. Di lokasi ini, kini dibuat tugu.
Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut mulai berkembang, dan pada tahun 1957, Desa Sumberkima mencakup beberapa wilayah lainnya seperti Pejarakan, Sumberkelampok, dan Pemuteran.
Desa ini menjadi pusat pemerintahan keperbekelan, yang awalnya terbagi menjadi dua banjar: Banjar Sumberkima dan Banjar Pemuteran.
Masyarakat desa ini terdiri dari dua golongan, yaitu Banjar Hindu dan Banjar Islam, yang hidup berdampingan di bawah pengawasan Kecamatan Seririt pada masa itu.
Pada tahun 1966, terjadi perubahan administratif dengan terbentuknya Kecamatan Pejarakan. Akan tetapi, pusat pemerintahan ada di Desa Gerokgak, sehingga nama kecamatan berubah menjadi Kecamatan Gerokgak hingga saat ini.
Desa-desa yang sebelumnya tergabung di bawah Desa Sumberkima kini telah berdiri sendiri sebagai Desa Sumberkelampok, Desa Pejarakan, dan Desa Pemuteran.
Selain itu, dari sejarah Desa Adat Sumberkima, juga disebutkan bahwa Desa Sumberkima berawal dari seorang juragan perahu dari Sulawesi yang berlabuh di pesisir pantai desa ini.
Dalam pencariannya untuk menemukan sumber air, ia menemukan kerang kima besar yang ketika diangkat, mengeluarkan mata air tawar dan sejuk.
Tempat ini kemudian menjadi pusat spiritual, di mana hingga kini masyarakat desa mengadakan upacara Penangluk Merana setiap Tilem Sasih Keenam.
Keberadaan sumber air yang ajaib dari kerang kima bukan hanya memberikan kehidupan bagi para pelaut, tetapi juga menjadi fondasi bagi terbentuknya Desa Sumberkima.
Hingga saat ini, sumber air tersebut masih ada dan menjadi bagian penting dari sejarah desa, memberikan nama dan identitas yang melekat kuat pada masyarakat setempat. ***
Editor : Y. Raharyo