Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gempa Bumi Guncang Buleleng, Menguak Makna Mistis di Balik Peristiwa di Rahina Sukra Umanis

I Putu Suyatra • Jumat, 6 September 2024 | 15:18 WIB
GEMPA: Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Batang, Jawa Tengah. Tercatat terjadi 6 kali gempa susulan. Untuk itu, BMKG minta masyarakat waspada.
GEMPA: Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Batang, Jawa Tengah. Tercatat terjadi 6 kali gempa susulan. Untuk itu, BMKG minta masyarakat waspada.

BALIEXPRESS.ID  - Sebuah gempa bumi mengguncang Kabupaten Buleleng pada Jumat (6/9/2024) dini hari, tepat pada pukul 04.13.40 WITA.

Guncangan dengan kekuatan 3 skala Richter ini berpusat sekitar 12 kilometer tenggara Singaraja, di wilayah Kubutambahan.

Meski terukur pada skala II MMI, beberapa warga mengaku merasakan guncangan yang cukup keras, sehingga membangunkan mereka dari tidur.

"Suaranya kencang, sampai tidak bisa tidur lagi," kata seorang warga Desa Bengkala yang merasakan getaran gempa.

Namun, ada hal menarik di balik gempa ini. Bagi masyarakat adat Bali, gempa tidak hanya dilihat sebagai fenomena alam, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam.

Hal ini tercermin dalam teks kuno bernama Lontar Palalindon, yang khusus membahas dampak dan makna dari gempa bumi.

Gempa dalam Perspektif Lontar Palalindon

Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh tim dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, yang sebelumnya dikenal sebagai Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, terungkap bahwa gempa bumi memiliki berbagai makna tergantung pada waktu dan kalender Bali.

Gempa yang terjadi pada Sukra Umanis Sasih Katiga memiliki arti yang khusus, seperti yang dijelaskan dalam teks Palalindon:

“Apabila gempa terjadi pada Sasih Katiga, Bhatara Sri beryoga untuk keselamatan dunia, namun Bhatara Guru bersedih karena hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana. Ini dapat memengaruhi tanaman dan membuat banyak orang kesulitan mencari makan.”

Pertanda Bahaya atau Harapan?

Tidak berhenti di situ, Lontar Palalindon juga menjelaskan dampak lain dari gempa yang terjadi pada hari Jumat, atau dalam kalender Bali dikenal sebagai rahina Sukra.

Gempa pada hari ini dikaitkan dengan kutukan yang dapat menimbulkan wabah, mematikan ternak, serta merusak tanaman. Hal ini sejalan dengan potensi bahaya gagal panen yang bisa mengakibatkan kelaparan.

Namun, lontar juga memberikan secercah harapan. Meski hujan deras yang turun setelah gempa dapat menjadi bencana, jika diiringi dengan upacara pecaruan, potensi malapetaka tersebut bisa dicegah.

Lontar Palalindon menyarankan penggunaan sarana khusus seperti celeng pelen, ayam wangkas, dan guling itik, serta pengucapan mantra suci untuk menyeimbangkan energi alam.

Berikut sarana lengkap dan mantranya: 

Karena gempa pada sasih katiga, lontar menjelaskan bahwa sarana yang diperlukan meliputi: seekor babi celeng, nasi wre yang ditempatkan dalam wakul, dua penek, seekor ayam wangkas panggang, gulai itik, isuh-isuh, rwaning suda mala, rwaning temen hitam, uang 225 kepeng, dan seutas lawe satukel.

Mantra yang harus diucapkan adalah: "Ong Sri Wisnu Maharaja, ini penerimaan persembahan-Mu, bersama dengan Bhatara Guru, sampai kepada semua keturunan-Mu, Ong yang memelihara kehidupan di bumi, amreta."

Mengapa Penting?

Gempa ini tidak hanya menimbulkan guncangan fisik tetapi juga membuka mata kita akan kepercayaan masyarakat Bali terhadap kekuatan alam dan spiritualitas yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini sekaligus mempertegas pentingnya pelestarian tradisi leluhur dalam menghadapi tantangan alam dan bencana yang tak terduga.

Dengan makna mendalam dari teks kuno tersebut, masyarakat Bali tidak hanya melihat gempa sebagai fenomena alam semata, melainkan sebagai pesan dari alam yang harus diresapi dan dihadapi dengan kebijaksanaan tradisional.

Upacara dan doa pun menjadi jembatan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Lontar Palalindon #gempa #buleleng