Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UWRF 2024, Perpaduan Sastra, Isu Lingkungan, dan Penghormatan untuk Legenda Bali

Rika Riyanti • Jumat, 11 Oktober 2024 | 19:55 WIB

SASTRA: Konferensi pers UWRF di Sanur, Kamis (10/10)
SASTRA: Konferensi pers UWRF di Sanur, Kamis (10/10)

 

 

BALIEXPRESS.ID — Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) siap digelar kembali pada 23-27 Oktober 2024, menghadirkan lebih dari 250 pembicara dari berbagai penjuru dunia, termasuk 70 penulis, seniman, dan aktivis Bali.

Mengusung tema "Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness", festival ini terinspirasi dari filosofi Hindu Bali dan epik Mahabharata, menekankan pentingnya nilai kebenaran dan kebaikan dalam karya sastra.

Oka Rusmini, pemenang S.E.A Writer Award, bilang kalau karya penulis perempuan Bali seperti dia adalah interpretasi modern dari tema UWRF tahun ini.

Baca Juga: Puncak Mawar Dusana, Perpaduan Alam Pegunungan dan Kearifan Lokal

Karya-karyanya bukan cuma bicara soal kebenaran, tapi juga mengajak pembaca untuk berempati, berpikir, dan bertindak.

Menurut Oka, nilai-nilai kebenaran dan kebaikan selalu relevan, walaupun cara kita memahaminya terus berubah seiring waktu.

Nanti di UWRF, ia akan tampil di sesi "Bali Through Her Eyes," memberi perspektifnya tentang bagaimana perempuan Bali melihat dan memaknai pulau ini.

Baca Juga: Taman Wisata Air Gumbrih, Pesona Alam Sungai di Tengah Kebun Kelapa, Jembrana

Selain isu perempuan, UWRF juga menyoroti masalah pembangunan berlebihan di Bali.

Sesi "Overdevelopment in Bali" akan menampilkan aktivis Niluh Djelantik, arsitek I Nyoman Gede Mahaputra, dan akademisi lingkungan Agung Wardhana.

Diskusi lain mencakup Bali Net Zero Emissions Coalition, pembangunan zona rendah emisi di Ubud, dan transisi energi listrik yang berkeadilan, yang diadakan bekerja sama dengan WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih. 

Baca Juga: Taman Wisata Air Gumbrih, Pesona Alam Sungai di Tengah Kebun Kelapa, Jembrana

Turut berbicara dalam konferensi pers adalah penulis dan dosen sastra Jawa Kuno kelahiran Getakan, Klungkung, Carma Mira.

Kehadirannya sebagai penulis muda yang giat menulis dalam bahasa Bali sangat ditunggu-tunggu.

“Menulis dengan bahasa Bali adalah salah satu bentuk komitmen saya untuk melestarikan dan merawat kekayaan budaya Bali. Saya sebagai salah satu penutur bahasa Bali ingin ikut berkontribusi dalam memperkaya khazanah sastra Bali,” ujarnya.

Baca Juga: Pantai Medewi, Surga Surfing dengan Pesona Sunset di Jembrana, Bali

Beberapa program yang akan ia isi adalah Balinese Palm-Leaf Manuscript Crafting Experience, sebuah lokakarya penulisan lontar Bali, dan Mesatua Bali, Fun with Balinese Stories di mana ia akan membawa dan mempromosikan cerita-cerita Bali kepada anak-anak usia 6-8 tahun. 

Pranita Dewi, penyair Bali yang karyanya telah diterjemahkan ke Bahasa Prancis, Inggris, dan Thailand, akan tampil di berbagai sesi pembacaan puisi di UWRF, seperti Women's Poetry Slam, Poetry Night at Casa Luna, dan 2024 Festival Poetry Slam.

Dalam konferensi pers, ia menekankan bahwa UWRF adalah platform penting yang mendukung perkembangan sastra dan penulis Bali.

Baca Juga: Keindahan Karang Sewu, Destinasi Wisata Pesisir Populer di Jembrana, Bali

UWRF tahun ini akan memberikan penghormatan kepada dua tokoh besar Bali, Cok Sawitri dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus.

Cok Sawitri, penulis, penyair, dan seniman asal Karangasem, yang meninggal pada 4 April 2024, meninggalkan warisan besar bagi seni dan budaya Bali.

Dalam "Tribute to Cok Sawitri," sejumlah seniman, seperti Ayu Anantha Putri, Warih Wisatsana, Dayu Ani, Jasmine Okubo, dan Wayan Juniartha, akan memberikan penghormatan untuknya sebagai tokoh seni pilihan Tempo 2018.

Baca Juga: Singaraja Akan Punya Sirkuit, Manfaatkan Aset Pemprov, Siap Digunakan Akhir Tahun 2024  

Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, akademisi asal Peguyangan, Denpasar, dikenal sebagai "Bapak Kajian Bali" atas kontribusinya dalam ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya Bali, termasuk pendirian institusi akademik terkemuka.

Malam penghormatan untuknya akan dibuka oleh putranya, I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, diikuti oleh penulis Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra dan Oka Rusmini.

Janet DeNeefe, Pendiri & Direktur UWRF, menyampaikan bahwa dua tokoh ini telah meninggalkan warisan yang begitu mendalam bagi Bali dan masyarakatnya.

“Melalui persembahan ini, kami ingin memberikan penghormatan sekaligus perayaan bagi sosok Cok Sawitri dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Sebagai festival yang lahir dan besar di Bali, kami juga ingin turut memastikan bahwa warisan-warisan keduanya tetap hidup dan, harapannya, dapat terus menginspirasi generasi-generasi muda Bali ke depan,” katanya.

Persembahan ini akan menjadi bagian dari lebih dari 200 program yang dihadirkan UWRF sepanjang 23-27 Oktober di Ubud, Bali.

Baca Juga: Mahalini Masuk Nominasi 'Best Asia Act' di MTV Europe Music Awards 2024

Nama-nama Bali lain yang akan turut mengisi program-program ini mencakup Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole, Bagus Ari Saputra, Ni Nyoman Ayu Suciartini, Tan Lioe Ie, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Juli Sastrawan, Nirartha Bas Diwangkara, Sugi Lanus, Wayan Wardika, dan banyak lagi.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #ubud #penulis #UWRF