Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Bondalem: Dulu Banyak Tumbuhan Merambat Milik Raja, Sempat Jadi Jalur Perdagangan Kuno

I Putu Mardika • Minggu, 13 Oktober 2024 | 04:05 WIB

Tugu Perjuangan di Desa Bondalem Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng
Tugu Perjuangan di Desa Bondalem Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula Buleleng memiliki sejarah panjang yang menarik diketahui. Desa ini berada di pinggir pantai, bahkan sejumlah penemuan arkeologis mengindikasikan jika dahulu pernah menjadi jalur perdagangan kuno.

Dilansir dari Website Desa Bondalem, Pada zaman dahulu, wilayah Bali berada di bawah kekuasaan Raja Klungkung. Sebagai penguasa, Raja sering mengunjungi daerah Buhundalem dan Julah, yang pada saat itu belum memiliki nama Bondalem.

Karena seringnya kunjungan Raja, ia membangun tempat peristirahatan yang sekarang dikenal sebagai Pura Jero Dalem. Berdasarkan istilah "Jero", tempat ini tampaknya bukan merupakan kediaman resmi raja, melainkan mungkin dihuni oleh bawahannya, karena kediaman resmi seorang raja biasanya disebut "Puri".

Nama Buhundalem sendiri terdiri dari dua kata: "buhun", yang berarti sejenis tumbuhan merambat, dan "dalem", yang merupakan gelar bagi para raja di Bali. Oleh karena itu, Buhundalem dapat diartikan sebagai "tumbuhan-tumbuhan merambat milik raja".

Istilah ini kemudian dihubungkan dengan istilah "Kebondalem", yang juga sering digunakan oleh masyarakat untuk menyebut Desa Bondalem.

Secara keseluruhan, nama ini mengacu pada daerah yang digunakan sebagai kebun raja untuk menanam tanaman merambat.

Seiring waktu, pengucapan "Buhundalem" berubah menjadi "Bondalem", mungkin karena alasan praktis, karena pengucapan "Bondalem" lebih mudah.

Desa Bondalem terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sekitar 29 kilometer ke arah timur dari Kota Singaraja, dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut.

Selain itu, di desa ini juga pernah ditemukan beberapa artefak bersejarah di perairan sekitar Pura Dalem. Fragmen gerabah yang ditemukan diperkirakan berasal dari 200-150 SM, menunjukkan adanya peradaban kuno di pesisir Bali Utara.

Artefak ini mungkin awalnya berada di darat sebelum terkikis oleh abrasi laut.

Temuan ini memperkuat indikasi bahwa wilayah pesisir Buleleng merupakan bagian dari jalur perdagangan kuno, dan peneliti berencana melakukan penelitian lebih lanjut untuk melestarikan dan memahami nilai sejarahnya.

Desa ini cukup padat penduduknya, dan pada tahun 1970-an hingga 1985 terkenal dengan produksi jeruknya yang sangat manis, meskipun kini hasil jeruk tersebut sudah tidak ada lagi karena serangan hama pestisida.

Desa Bondalem juga memiliki pantai yang indah dengan pasir hitam dan ombak yang tenang.

Saat ini, Bondalem menjadi lokasi budidaya terumbu karang karena kondisi lautnya yang masih terjaga dari pencemaran, sehingga terumbu karang dapat berkembang dengan baik.

Desa Bondalem kini menjadi destinasi wisata, dengan banyak vila dan bungalow yang dibangun di sepanjang pesisir pantainya.

Penduduk desa sebagian besar bekerja sebagai pedagang, nelayan, atau petani, meskipun banyak yang memilih untuk merantau.

Suasana sejuk dan keramahan penduduk akan terasa ketika memasuki wilayah desa ini. Meskipun penduduk Bondalem dikenal memiliki temperamen yang kuat, mereka juga teguh memegang prinsip dan menjaga tanah kelahiran mereka.

Di pintu masuk desa, terdapat patung besar setinggi 50 meter, yang didirikan sebagai simbol penghormatan kepada para pahlawan yang melindungi desa dari serbuan penjajah dalam pertempuran Yuda Dharma 45.

Desa ini juga dihuni oleh beberapa keluarga besar yang telah mendiami Bondalem secara turun-temurun, di antaranya Arya Keladian, Arya Kuta Waringin, Arya Tegeh Kori, Arya Kresna Kepakisan, dan beberapa keluarga lainnya.

Keluarga-keluarga ini bukan asli penduduk Bondalem, melainkan keturunan keluarga kerajaan yang pada masa lalu ditugaskan untuk menjaga dan melindungi wilayah timur Buleleng. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bondalem #tejakula #sejarah #desa #artefak #buleleng