Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Perebutan Bendera di Pelabuhan Buleleng, Perlawanan Heroik Pemuda Bali Melawan Perampok Kulit Putih

Dian Suryantini • Selasa, 5 November 2024 | 15:05 WIB

Monumen Tri Yuda Mandala yang ada di pesisir Pelabuhan Tua Buleleng.
Monumen Tri Yuda Mandala yang ada di pesisir Pelabuhan Tua Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pagi yang cerah di Singaraja pada tahun 1945, menjadi saksi datangnya kapal Belanda Abraham Grijns. Kapal ini merapat ke pelabuhan Buleleng dengan membawa misi yang memancing amarah rakyat Indonesia. Bendera tiga warna Belanda berkibar di tiang kapal, menimbulkan kegemparan dan keresahan yang mendalam bagi warga setempat yang masih bersemangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang saat itu baru saja diproklamirkan.

Kapal ini sebenarnya berencana menuju Madura, namun setelah mendapat perlawanan rakyat di sana, kapal itu beralih ke perairan Bali Utara. Ketika kapal mulai mendekat, masyarakat yang berkumpul menahan emosi, menyaksikan bendera Belanda yang berkibar di tanah air mereka. Kemarahan semakin menjadi ketika para awak kapal turun ke darat dengan persenjataan lengkap. Berbagai hasil panen dan barang kebutuhan pokok milik rakyat diambil dengan paksa. Dirampas! Dirampok! Mereka rampok kulit putih.

Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis Nyoman S. Pendit dalam buku Bali Berjuang dikisahkan, peristiwa ini terjadi hampir bersamaan dengan gelombang semangat perjuangan yang disulut Bung Tomo di Surabaya. Suara perjuangan dari Radio Pemberontakan menggema ke seluruh Nusantara, termasuk Bali. Seruan itu mendorong semangat para pemuda Bali yang segera bersiap menghadapinya. Buku itu kini tersimpan di Perpustakaan UPTD Gedong Kirtya, Singaraja.

Pada hari kedua, para pemuda Singaraja tetap berada dalam kondisi siaga. Meski demikian, rakyat di sekitar pelabuhan tidak memiliki senjata yang cukup untuk melawan para penjajah bersenjata otomatis. Tanpa bisa berbuat banyak, mereka menyaksikan tentara Belanda semakin beringas merampas dan menghina kehormatan bendera Sang Merah Putih yang berkibar di perairan mereka.

Keesokan harinya, pasukan Belanda makin berani. Mereka mulai merobek bendera Merah Putih yang berkibar di depan kantor bea cukai (kini Gedung MR. Ketut Pudja) dan menggantikannya dengan bendera mereka sendiri. Hal ini menggerakkan solidaritas pemuda dari berbagai daerah di Bali untuk bergabung dengan pemuda Singaraja. Bersama-sama, mereka bertekad melawan para penjajah, meskipun hanya dengan peralatan seadanya.

Bendera Belanda yang berkibar lalu diturunkan kembali dan diganti dengan bendera merah putih oleh I Ketut Merta asal Liligundi, Singaraja. Sayangnya, saat itu aksinya diketahui oleh Belanda. Dari atas kapal, mereka melakukan penembakan beruntun. Satu peluru menembus dada I Ketut Merta yang mengakibatkan ia tewas di tempat. Belanda lalu kembali menaikkan bendera Merah Putih Biru sepeninggal Ketut Merta. Aksi perebutan bendera itu benar-benar membuat darah para pemuda mendidih.

Para pemuda di bawah komando I Made Putu melakukan serangan untuk menurunkan bendera Belanda yang dikibarkan di pelabuhan. Mereka bekerja secara berkelompok, dengan tugas masing-masing demi memastikan keberhasilan operasi. Ada beberapa pemuda yang turut bekerja sama untuk merebut bendera, diantaranya :

Gede Muka – Berperan sebagai pemimpin aksi langsung dalam menurunkan bendera Belanda di pelabuhan. Ia memimpin dengan keberanian untuk memastikan bendera Sang Merah Putih kembali berkibar di tanah Buleleng.

Wayan Mudana – Menjadi pendamping Gede Muka dalam proses penurunan bendera. Ia membantu Gede Muka dengan tekad kuat untuk menjaga kehormatan Sang Dwiwarna.

Anang Ramli – Sebagai pelaksana utama yang bertugas mendekati bendera dengan hati-hati. Ia menggunakan taktik penyamaran, berguling-guling mendekati tiang bendera agar tidak terlihat dari kapal Belanda yang terus menyinari lokasi dengan lampu sorot.

Nengah Tamu – Menjaga keamanan pantai bersama pemuda lainnya. Nengah Tamu ditempatkan bersama pasukannya di sisi barat sekitar Pura Segara dan sisi timur tepi Tukad Buleleng, siap melawan jika tentara Belanda berani mendarat lagi.

Ida Bagus Suambem – Bekerja bersama Nengah Tamu untuk mengatur pasukan penjaga pantai di sisi barat dan timur pelabuhan. Mereka memastikan agar tidak ada serangan mendadak dari pihak Belanda di saat tim mereka menurunkan bendera.

Apesnya, saat misi penurunan bendera Belanda mencapai setengah tiang, tali bendera terputus. Jadilah bendera tiga warna itu terkatung-katung setengah tiang. Para pemuda itu tidak kehabisan akal. Alhasil mereka menggunakan arit untuk menggapai bendera tiga warna itu. Warna biru dirobek hingga tersisa warna merah dan putih.

Namun, perlawanan ini membuat Belanda menembakkan senjatanya dari kapal ke arah pemuda yang sedang menurunkan bendera, mengakibatkan tewasnya salah satu pejuang, I Ketut Merta, yang gugur sebagai pahlawan di pelabuhan Buleleng.

Malam itu, rakyat menyaksikan perjuangan tak kenal menyerah dari pemuda-pemuda Bali untuk menjaga kehormatan bendera Merah Putih. Akhirnya, pada hari ketiga, setelah perlawanan sengit, kapal Abraham Grijns berlayar meninggalkan perairan Buleleng. Meski demikian, ketegangan tidak langsung mereda. Provokasi dari Belanda yang berkolaborasi dengan Jepang menimbulkan kekacauan lebih lanjut di Bali melalui gerakan “Kipas Hitam” yang turut mengancam kestabilan dan ketentraman rakyat.

Peristiwa Bendera di Pelabuhan Buleleng bukan sebuah insiden. Ia adalah simbol keberanian dan semangat tak kenal menyerah rakyat Bali dalam menghadapi penindasan. Hingga hari ini, kisah perjuangan para pemuda yang mempertahankan Sang Dwiwarna tetap hidup sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tugu Tri Yuda Mandala yang kini berdiri kokoh di pesisir Pelabuhan Tua Buleleng adalah simbol perjuangan pemuda merebut kembali bendera Republik Indonesia agar dapat berkibar di tanah air. ***

Editor : Dian Suryantini
#belanda #pelabuhan #buleleng