BALIEXPRESS.ID-Anggota DPD RI Bali, Niluh Djelantik ikut menanggapi video viral Gus Miftah yang dinilai merendahkan penjual es teh di Magelang.
Meski sudah melakukan klarifikasi dan meminta maaf, Niluh Djelantik menilai hal tersebut tidak akan cukup.
Permintaan maaf itu tidak akan bisa menghapus dosa siapapun yang sudah merendahkan orang lain.
“Semesta bersamamu. Tuhan bekerja dengan caranya. Kita tetap sabar dan tawakal ya bapak sayang,” tulis Niluh Djelantik melalui akun media sosialnya dikutip pada Rabu (04/12/2024).
Lebih lanjut, Niluh Djelantik pun meminta kepada Presiden Prabowo untuk mempertimbangkan jabatan Gus Miftah sebagai utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.
“Mohon pertimbangkan lagi pak kedudukan seseorang sebagai utusan khusus namun memiliki pemikiran/perkataan/perilaku yang sangat menyakiti hati kami,” jelasnya.
Pihaknya menyebut bahwa Bangsa Indonesia besar oleh orang-orang kecil yang bekerja keras menghidupi diri dan kelaurganya.
Baca Juga: Chatbot Aivia: Channel AI Terkini Sales, Marketing, dan Customer Service
Bahkan Niluh Djelantik menyebut bahwa 95 % tenaga kerja di Indonesia adalah UMKM.
“Mohon kebijakan bapak sebagai bapak bangsa yang menjadi ayah bagi 280 juta rakyat Indonesia untuk memberikan masukan pada ybs,” jelasnya.
Sebelumnya, Kasus ucapan Gus Miftah yang terjadi saat dakwah di Magelang pada acara Magelang Bersholawat menuai kecaman luas dari warganet.
Dalam insiden tersebut, Gus Miftah yang sedang berdakwah terlihat bercanda dengan seorang penjual es teh yang sedang berdiri di tengah kerumunan jamaah.
Dalam video yang beredar, Gus Miftah menyebutkan, “Oh kon borong, es mu sik akeh? Yo kono di dol Gblk,” sambil tertawa lepas bersama orang-orang yang ada di atas panggung.
Ucapan kasar tersebut langsung mendapat reaksi keras dari warganet yang menilai Gus Miftah telah merendahkan martabat pedagang kecil dan menggunakan bahasa yang tidak pantas.
Dalam video yang viral, tampak penjual es teh tersebut hanya bisa terdiam dan menghela napas, yang semakin memicu rasa iba dari masyarakat.
Editor : Wiwin Meliana