Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Meracik Cita Rasa, Gali Potensi, DWP Buleleng Olah Bahan Lokal Jadi Kuliner Bergizi

Dian Suryantini • Jumat, 6 Desember 2024 | 21:33 WIB

Kuliner yang dimasak hasil lomba yang diselenggarakan DWP Buleleng
Kuliner yang dimasak hasil lomba yang diselenggarakan DWP Buleleng

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di tengah riuhnya suara penggorengan dan denting piring saji, lomba ini menyimpan visi besar, yakni melestarikan kekayaan kuliner Buleleng sekaligus menciptakan standar baru dalam memasak sehat. Tapi, cukupkah inisiatif ini untuk menembus dinding kebiasaan masyarakat yang masih sering tergoda oleh makanan cepat saji dan praktis?

Sebuah panggung sederhana di Gedung Wanita Laksmi Graha, Jumat (6/12), menjadi ruang tersajinya kuliner sehat dan bergizi yang dihelat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Buleleng. Dalam rangka HUT ke-25, lomba masak ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga medan perjuangan untuk memperkenalkan wajah baru kuliner lokal.

Peserta yang terdiri atas ketua unsur DWP dan organisasi wanita se-Kabupaten Buleleng tampil dengan kreativitas terbaiknya, menyajikan masakan berbasis bahan lokal seperti ayam, ikan segar, sorgum, hingga jagung. Namun, apa yang tampak di meja penilaian bukan sekadar masakan biasa; ini adalah manifesto kuliner sehat tanpa MSG dan pemanis buatan, sebuah langkah kecil yang sarat makna untuk kesehatan masyarakat.

Ketua DWP Kabupaten Buleleng, Ny. Dewi Suyasa, menegaskan pentingnya mengolah bahan lokal secara kreatif untuk mendukung gaya hidup sehat. “Lomba ini bukan hanya tentang masakan, tetapi tentang bagaimana ibu-ibu mengambil peran penting dalam menciptakan keluarga sehat melalui dapur mereka,” ujarnya penuh semangat.

Namun, di balik semarak ini, apakah lomba ini mampu menggerakkan perubahan nyata di masyarakat? Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Buleleng, Made Setiawan, mengakui bahwa bahan pangan lokal seperti sorgum dan jagung memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kuliner sehat. “Ini bukan hanya tentang mengenalkan makanan sehat, tapi juga melawan dominasi bahan impor dengan kekayaan lokal kita sendiri,” katanya.

Namun, Setiawan juga tak memungkiri tantangan besar di depan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bahan lokal dan makanan sehat masih rendah. “Kita membutuhkan lebih dari sekadar lomba. Diperlukan edukasi dan program berkelanjutan untuk mengubah pola pikir masyarakat,” tambahnya.

Selain lomba, mereka berkomitmen memperluas promosi kuliner lokal melalui berbagai program. Meski begitu, tanggung jawab ini tidak hanya terletak pada pundak mereka. Kolaborasi dengan komunitas, sektor swasta, dan pemerintah menjadi kunci untuk membawa misi ini ke tingkat yang lebih luas.

“Ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang untuk merevolusi kebiasaan kuliner masyarakat,” ujar Dewi Suyasa.

Namun, seperti halnya rasa masakan yang membutuhkan bumbu pas, keberhasilan program ini juga membutuhkan sinergi yang kuat. Tanpa dukungan dari berbagai pihak, cita-cita besar ini bisa saja berakhir seperti masakan yang kehilangan rasanya—indah di awal, hambar di akhirnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#Lomba Masak #dwp #buleleng