BALIEXPRESS.ID – Sebuah langkah kecil untuk lingkungan namun besar dalam maknanya. Ungkapan itu layak disematkan untuk workshop membuat tas belanja dari baju bekas yang digagas tim Pasar Intaran, Buleleng.
Tim menghadirkan Dina Febriana sebagai instrukturnya. Dina sendiri merupakan seorang penggiat daur ulang asal Buleleng, terutama untuk kain perca.
Baca Juga: VIRAL! Selebgram Aceh Tuai Kecaman Usai Lantunkan Ayat Alquran diiringi Musik DJ
Pada akhir pekan lalu, Pasar Intaran di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Dina memberikan sebuah upaya kreatif yang tidak hanya menghasilkan karya unik tetapi juga menyuarakan isu mendesak, seperti limbah tekstil yang kian menumpuk.
Limbah tekstil menjadi salah satu ancaman terbesar bagi lingkungan. Sebagian besar diantaranya berakhir di tempat pembuangan akhir, mencemari tanah dan air karena sulit terurai.
“Kami sering berpikir bahwa baju bekas tidak punya nilai lagi, padahal bisa disulap menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Dina saat membuka workshop-nya, akhir pekan lalu, Minggu (12/1).
Baca Juga: Kemenag Klungkung Serahkan SK Perpanjangan Kontrak PPNPN Tahun 2025
Dina, yang dikenal dengan dedikasinya pada gerakan zero waste, memulai sesi dengan menunjukkan berbagai cara sederhana untuk mengubah kaos bekas menjadi tas belanja multifungsi tanpa perlu menjahit.
Peserta yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga anak muda, tampak antusias mengikuti setiap langkah.
Hanya dengan beberapa potongan, simpul, dan kreativitas, baju-baju yang sebelumnya dianggap sampah berubah menjadi tas belanja cantik yang kuat dan praktis.
“Tas belanja ini bukan sekadar solusi mengurangi limbah plastik, tetapi juga bentuk pemberdayaan,” jelas Dina.
Baca Juga: Aksi Pencurian Helm Terekam CCTV di Tabanan, Pelaku Gunakan Sepeda Motor Tanpa Plat
Ia menambahkan bahwa dengan kreativitas, setiap orang bisa berkontribusi pada pengurangan limbah, sekaligus menciptakan peluang usaha baru.
“Bayangkan, jika setiap orang membawa tas seperti ini ke pasar atau supermarket, berapa banyak plastik sekali pakai yang bisa kita hindari?” kata dia.
Tidak hanya tentang teknik, workshop ini juga membahas dampak limbah tekstil secara lebih luas.
Dina menjelaskan bahwa industri fesyen adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, dan kebiasaan konsumsi fast fashion memperburuk situasi. “Kita sering membeli pakaian yang kita pakai hanya beberapa kali, lalu membuangnya. Ini pola yang harus kita ubah,” tambahnya.
Baca Juga: Aksi Pencurian Helm Terekam CCTV di Tabanan, Pelaku Gunakan Sepeda Motor Tanpa Plat
Untuk diketahui, industri mode global menghadapi tantangan serius terkait limbah tekstil.
Dikutip dari Fibre2Fashion, pada tahun 2020, sekitar 18,6 juta ton limbah tekstil dibuang ke tempat pembuangan akhir. Konsumen, secara rata-rata, membuang 60 persen pakaian mereka hanya setahun setelah pembelian. Hal ini mencerminkan tren mode yang cepat berubah, dan fashion hanya bertahan setidaknya satu tahun sebelum tergantikan oleh tren baru.
Di sisi lain, menurut The Sustainable Fashion Forum, konsumsi pakaian dunia diperkirakan meningkat hingga 63 persen pada tahun 2030, dari 62 juta ton menjadi 102 juta ton. Peningkatan ini diproyeksikan akan menyebabkan akumulasi limbah tekstil global mencapai 300 juta ton pada tahun 2050.
Di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa sampah kain menyumbang 2,5 persen dari total volume sampah. Meski terlihat kecil, prediksi menunjukkan pembuangan pakaian akan terus meningkat, memperburuk angka limbah pakaian di masa mendatang.
Baca Juga: Profil Ketua PHDI Klungkung I Putu Suarta, Dedikasi untuk Membantu Umat Hindu Tanpa Pamrih
Sementara itu, tahun 2021, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui SIPSN mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah pakaian, setara dengan 12 persen dari total limbah rumah tangga.
Angka ini menegaskan perlunya langkah konkret untuk mengatasi dampak lingkungan dari industri mode, seperti mendorong konsumsi fashion berkelanjutan dan pengelolaan limbah tekstil yang lebih baik. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana