BALIEXPRESS.ID - Pedestrian atau jalan setapak di Pantai Kuta kembali rusak parah akibat tergerus abrasi.
Kerusakan ini diduga terjadi pada Rabu (15/1) malam, padahal sebelumnya telah dilakukan perbaikan dan pemasangan geobag.
Namun ombak besar kembali menghantam dan merusak pedestrian serta dinding pengaman.
Baca Juga: Nikmati Makan Bergizi Gratis, Puluhan Siswa SD Keracunan: Pengelola SPPG Akui Penyebabnya Diduga Ini
Salah seorang pedagang Pantai Kuta, yakni Ibu Agus menyatakan, kerusakan dari pedestrian diduga terjadi spada malam hari.
Sebab pada Rabu (15/1) ia belum melihat kerusakan.
“Kemarin saat saya pulang jam 8 malam kondisinya masig baik-baik saja. Katanya setelah itu ombak tinggi dan menggerus pedestrian,” ucapnya.
Baca Juga: Vietjet Raih Gelar Maskapai Teraman Dunia 2025 Versi AirlineRatings
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Badung, AA Rama Putra pun tidak menampik hal tersebut.
Menurutnya, kerusakan ini terjadi akibat gelombang pasang laut belakangan ini.
Bahkan kondisi ini pun disebutkan telah terjadi tiga kali.
Baca Juga: Kasus Penganiayaan di Bakbakan Dilimpahkan ke Kejari Gianyar, Para Tersangka Resmi Ditahan
“Kondisi itu sudah tiga kali terjadi di titik itu selama dua minggu ini. Sudah dua kali kamk lakukan perbaikan, pada 3 Januari dan kemarin 15 Januari. Tadi kembali terjadi kerusakan akibat pasang laut semalam,” ungkap Gung Rama.
Pihaknya menyatakan, kerusakan pada pedestrian tersebut pun lebih parah dari sebelumnya.
Panjang kerusakan yang terjadi sekitar 15 meter akibat pondasi pasir yang tergerus ombak.
Selain kerusakan di Pantai Kuta, Gung Rama mengaku, ada penurunan pedestrian di Pantai Seminyak dan Legian.
Terkait kerusakan tersebut, pihaknya pun telah berupaya melakukan perbaikan.
Namun kondisi gelombang yang cukup tinggi tidak memungkinan perbaikan dilakukan.
Bidang SDA Dinas PUPR Badung akan tetap melakuan pemantauan dan segera melakukan perbaikan.
Hal ini tentunya dilakukan agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung dan masyarakat setempat.
“Tadi kami mau lakukan penanganan, tapi keburu rob. Jadi kami menunggu kondisi surut laut untuk dilakukan penanganan. Kondisi rob ini diperkirakan terjadi dalam dua minggu ini. Alat kami standby di lapangan untuk perbaikan," jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga