SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pagi itu, angin berhembus tipis. Langit mendung dan matahari terhalang awan. Dengan kotak di tangan, perempuan itu mempercepat langkahnya. Ia menuju ke sebuah green house yang menyimpan lebih dari tiga ribu pohon melon.
Bau segar tanah bercampur aroma manis buah yang ranum memenuhi udara. Di sinilah kisah melon premium sweet lavender dan sweet net dimulai, di tangan Gusti Ayu Made Dasrini yang penuh ketelitian.
Sweet lavender, sang primadona, datang dari Thailand membawa cerita tentang daging buah yang renyah dan rasa manis yang berair. Saat menggigitnya, sensasi keseimbangan sempurna antara ringan dan segar terasa, seperti menikmati musim semi dalam sepotong buah.
Berbeda dengan sweet lavender, sweet net lahir sebagai buah melon yang lebih empuk. Daging buahnya padat, dengan rasa manis yang tak kalah menggoda. Kulit sweet lavender yang kuning cerah dihiasi jaring-jaring alami seperti lukisan alam, menandakan tingkat kemanisan dari si buah. Begitu juga dengan sweet net kulit buahnya berwarna krem.
“Kalau buahnya mulus, justru kurang manis. Jadi kalau cari melon ambil yang ada jaring-jaring atau yang tidak mulus,” ujar Dasrini, Senin (20/1).
Baca Juga: KREATIF! Penyuluh Bahasa Bali di Buleleng Gunakan Limbah Plastik untuk Kenalkan Aksara Bali
Keduanya tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga memberi manfaat. Vitamin C yang tinggi membantu meningkatkan daya tahan tubuh, sementara kandungan seratnya menjaga sistem pencernaan tetap sehat. Bahkan, air yang melimpah dalam buah ini menjadi oase segar di tengah panasnya Bali.
Saat masuk ke green house yang dibangun di sekitar komplek perumahan di Desa Pemaron, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, warna kuning dari buah melon Sweet Lavender mendominasi. Deretan buah melon kuning cerah dari sweet lavender tergantung rapi, seperti lampu taman yang bersinar di malam hari.
Namun, keindahan ini tidak muncul begitu saja. Dasrini dan timnya bekerja keras untuk melindungi setiap pohon dari ancaman serangga dan hama. Di sekeliling green house, perangkap serangga berwarna cerah dipasang dua lapis, menarik perhatian hama agar tidak merusak daun dan buah. Kutu putih, musuh utama tanaman ini, dapat membuat daun melengkung dan keriting, menghambat pertumbuhan buah yang sempurna.
“Kalau sudah diserang hama begitu kami mesti siaga. Seperti merawat anak, kami tidak ingin melon-melon ini celaka juga,” kata dia.
Baca Juga: Migrasi Lumba-lumba Hingga ke Celukan Bawang, Pemandu Wisata Kewalahan
Membudidayakan melon premium bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Sweet lavender membutuhkan waktu 70 hari untuk siap dipanen, sementara sweet net sedikit lebih cepat, hanya 60 hari. Setiap buah yang matang adalah hasil dari kerja keras dan kesabaran. Harga Rp40 ribu per kilogram bukan hanya mencerminkan kualitasnya, tetapi juga cerita panjang di balik setiap gigitan.
“Melon sweet lavender ini sangat jarang ditemukan di Bali. Perawatannya harus ekstra hati-hati, dan harganya juga tidak murah, sehingga pasar untuk buah ini cukup terbatas,” kata Dasrini sambil tersenyum. Namun, ia tidak menyerah. Kini, melon-melon ini telah menghiasi meja restoran, hotel, hingga pasar modern di Bali.
Melon sweet lavender dan sweet net tidak hanya berakhir sebagai buah segar. Mereka sering diolah menjadi jus eksotis, salad elegan, atau bahkan hidangan penutup yang mewah. Dasrini tidak hanya menjual buah, ia menjual pengalaman.
“Jika ada yang datang ke green house untuk membeli langsung melon dari pohonnya juga bisa. Selama persediaan masih ada. Cara potongnya juga kami ajarkan agar tidak merusak pohon dan buahnya,” ungkap Dasrini. ***
Editor : Dian Suryantini