BALIEXPRESS.ID - Pengempon dan Pengemong Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan melaksanakan upacara karipubaya pada Selasa (28/1).
Upacara yang dilaksanakan bertepatan pada tilem sasih kapitu ini dilakukan pasca adanya ulah pati atau bunuh diri dari seorang wisatawan asing.
Upacara karipubaya ini pun diharapkan dapat menetralisir area dan menghindari kejadian serupa.
Baca Juga: Ditegur Jangan Teror Mantan Istri, Pedagang Pasar Ikan Kedonganan Tusuk Dada Wanita Madura
Pengempon Pura Kuhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya mengatakan, kejadian ulah pati terjadi sekitar dua minggu lalu di kawasan Alas Kekeran, Uluwatu.
Meski bukan di dalam area pura pelaksanaan upacara karipubaya adalah sebuah kewajiban dari pengempon dan pengemong pura.
“Sebelumnya juga sudah dilakukak pembwrsihan secara alit setelah ada kejadian. Kemudian pada hari ini di hari yang baik yaitu tilem kapitu, kami pengempon dan pengemong sepakat melaksanakan upacara yang lebih besar adalah karipubaya,” ujar pria yang akrab disapa Turah Joko.
Baca Juga: Indonesia dan India Perkuat Kolaborasi AI untuk Transformasi Digital
Pengelingsir Puri Agung Jrokuta ini juga menyampaikan, upacara karipubaya bertujuan untuk menetralisir atau pembwrsihan area.
Apalagi kawasan Alas Kekeran masih dalam lingkup Pura Uluwatu.
“Tujuannya untuk menetralisisr, karena dia bukan orang Bali maka kami lah yang melakulan pembersihan,” jelasnya.
Pihaknya pun tidak memungkiri adanya kejadian ulah pati hingga lebih dari sekali.
Untuk itu pengawasn terhadap wisatawan akan dilakukan lebih cermat.
Melalui upacara ini diharapkan tidak terulang lagi kejadian ulah pati.
“Ini juga sudah dua kali terjadi, makanya ini kami perbedar dalam arti mengembalikan menetralisir. Sehingga roh-roh jahat atau hal-hal jahat, kami netralkan dengan yang normal melalui upacara,” paparnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta.
Ia menyebutkan, upacara karipubaya ini telah dilaksankan di hari yang baik, yakni pada tilem sasih kapitu.
Sebab sebelumnya ada mala atau baya, yaitu wisatawan yang diduga menceburkan diri di Alas Kekeran.
Lokasi ulah pati ini berada di dekat stage kecak Pura Uluwatu.
“Upacara ini dipuput pleh ida pedanda dari Griya Sari Bhagawanta Puri Agung Jrokuta,” ungkap Sumerta.
Dalam proses pelaksanaan upacara, ada kolaborasi dari Desa Adat Pecatu, Puri Agung Jrokuta, dan pemerintah daerah.
Bahkan untuk biaya yang ditinbulkan dalam upacara juga merupakan kolaborasi dari tiga unsur tersebut.
“Karena kawasan ini kami sucikan, sehingga kami sepakati melalui usulan kepada pemerintah daerah. Sehingga ada pengangfaran terkait upacara karipubaya,” imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga