Keberhasilan ini tidak lepas dari kepemimpinan Perbekel Gede Adi Wistara, SH., yang telah menjabat sejak tahun 2019 dan sukses memoles Desa Les menjadi destinasi wisata unggulan dengan keindahan alam serta nilai budaya yang tinggi.
Profil Mekel Desa Les menarik dikulik. Bagaimana kiprahnya hingga bisa meraih berbagai penghargaan bergengsi.
Gede Adi Wistara lahir di Singaraja pada 17 Desember 1987 dan menetap di Banjar Dinas Kanginan, Desa Les.
Ia menempuh pendidikan di SDN 1 Les, SMP Santo Paulus Singaraja, dan SMA Negeri 7 Denpasar.
Kemudian, ia melanjutkan studinya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta hingga meraih gelar Sarjana Hukum.
Sebelum menjadi perbekel, ia memiliki pengalaman kerja sebagai HRD, staf notaris, serta pekerja bantuan hukum di berbagai lembaga seperti YLBHI Indonesia dan LBH Bali.
Dedikasi Gede Adi Wistara dalam mengembangkan Desa Les mendapat apresiasi tinggi.
Ia meraih penghargaan Paralegal Justice Award 2023 dari Kemenkumham serta Anugerah Desa Wisata Terbaik Se-Indonesia 2024 dari Kemenparekraf.
Menurutnya, pencapaian ini merupakan awal dari upaya berkelanjutan untuk menjadikan Desa Les sebagai destinasi wisata bertaraf internasional yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.
“Karena semua masyarakat akan menjadi pelaku pariwisata tidak menjadi penonton untuk kesejahteraan Desa dan Indonesia,” ungkapnya.
Dikatakan Adi Wistara, meski sebagai Desa Wisata, namun dirinya tak menampik jika Pendapatan Asli Desa (PAD) masih kecil, karena Pariwisata air Terjun yang banyak pengelolaannya dahulu masih dikuasi adat.
“Tetapi baru dari tahun 2023 masuk dikelola ke Bumdes Desa Les. Harapannya banyak yang penasaran Dengan Desa Les, Pariwisata yang otentik dan edukatif. Sehingga kian dikenal,” sebutnya.
Seperti diketahui, salah satu daya tarik utama Desa Les adalah pesona Air Terjun Yeh Mampeh, yang merupakan salah satu air terjun tertinggi di Bali.
Wisatawan dapat menikmati jalur tracking yang menawarkan udara segar dengan kadar oksigen tinggi.
Tak jauh dari air terjun, terdapat sumber mata air suci Yeh Anakan yang digunakan untuk pentirtaan dan ritual melukat (self-purification).
Selain keindahan alam, Desa Les juga menawarkan wisata bahari. Pantai di desa ini menjadi tempat bagi ladang garam tradisional dan barisan perahu jukung milik nelayan tuna.
Lautnya yang kaya akan terumbu karang menjadikan Desa Les sebagai lokasi ideal untuk snorkeling dan diving.
Desa Les juga dikenal dengan konsep wisata edukatif, terutama dalam pengelolaan sampah. Desa ini memiliki tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) yang berdekatan dengan integrated farm.
Di sini, wisatawan dapat belajar bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos yang digunakan untuk pertanian.
Sebagai desa tua, Desa Les memiliki keunikan budaya yang khas. Berbeda dengan desa-desa lain di Bali, Desa Les tidak memiliki tradisi pembakaran jenazah (ngaben).
Pura Bale Agung di desa ini juga dikelilingi oleh pura keluarga, menyerupai tata letak Pura Besakih.
Beberapa arca kuno yang berada di Pura Puseh menambah daya tarik sejarah bagi pengunjung.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi fokus pengembangan desa wisata ini. Desa Les bekerja sama dengan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan potensi lokal.
Beberapa produk unggulan dari desa ini adalah arak tradisional, gula juruh lontar, minyak kelapa VCO, serta minyak tandusan.
Garam palungan, salah satu produk khas dari Desa Les, menjadi daya tarik tersendiri. Garam organik ini dibuat dengan metode tradisional menggunakan batang kelapa sebagai bidang jemur, menghasilkan kualitas garam yang tinggi dan diminati di pasar lokal maupun internasional.
Dengan berbagai potensi wisata yang dimiliki, Desa Les terus berupaya meningkatkan daya tarik dan fasilitasnya.
Keberhasilan Desa Les sebagai Desa Wisata Terbaik ADWI 2024 menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Dengan visi untuk menjadi desa wisata bersertifikasi internasional, Desa Les diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat serta menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia. (dik)
Editor : I Putu Mardika