DENPASAR, BALI EXPRESS - Sebanyak 59 anak setingkat Sekolah Dasar (SD) mengikuti Wimbakara (Lomba) Ngambar (menggambar) Satua Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali VII, di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali (BBB), Rabu (5/2).
Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Kebudayaan I Made Dana Tanaya mengatakan lomba ini menjadi salah satu cara untuk memotivasi anak-anak kita mengeluarkan ide dan gagasan, dan khusus dalam pelaksaaan BBB ini untuk meningkatkan kreativitas seni. "Lomba ini sebagai upaya agar anak-anak memahami seni dan budaya yang salah satunya cerita bergambar berbasaha Bali,” ujarnya
Baca Juga: Mitos Wuku Watunggunung serangkaian Hari Saraswati, Ilmu Diterima tanpa Kemarahan
Dana Tenaya menambahkan lomba menggambar ini sengaja mengangkat satwa (cerita) Bali sebagai upaya mengenalkan aksara, sastra dan bahasa Bali kepada anak-nak sejak dini. Untuk mendapatkan ide, mereka mesti terlebih dahulu mendengar, melihat dan membaca cerita, baik itu cerita bergambar atau lainnya.
Sementara dewan Juri, Prof. Dr. Drs. I Wayan Karja, MFA mengatakan, anak-anak setingkat SD ini memiliki teknik dan menawarkan ide yang menarik dalam lomba menggambar kali ini. “Kalau dilihat dari proses yang dilakukan sampai saat ini, mereka cendrung diinspirasi dari gambar-gambar sebelumnya. Baik itu dari huku-buku atau tempat lain, sehingga ada pengulangan dari unsur ceritanya,” ucapnya.
Baca Juga: Sarat Makna, Sangka Mudra di Awal dan Akhir Tarian Topeng Sidakarya
Kalau masalah keterampilan teknis, anak-anak peserta lomba ini tampak terus berkembang, bahkan sangat jauh. Termasuk kemampuan untuk mengolah bahan yang sangat menarik, dan melukis yang semakin cepat. “Saya melihat kepekaan mereka semakin kelihatan. Jujur, saya melihat ada peningkatan. Lihat saja hasil gambar mereka,” ucap dosen ISI Denpasar ini.
Bahkan, karya-karya mereka cenderung dipegaruh seni digital. Semisal pengaruh seni animasi sangat kelihatan dalam karya-karya mereka. Kalau kembali pada jaman dulu, apa yang dilihat maka itu yang dibuat, apa yang dilukis sebelumnya maka itu yang kembali dibuat. “Kalau anak-anak ini, sudah melakukan penggabungan dengan hasil teknologi jaman sekarang ini,” sebutnya.
Baca Juga: Bulan Bahasa Bali, Upaya Pelestarian dan Penggalian Bahasa Lokal di Era Digital
Prof. Karja menambahkan, kemampuan yang membanggakan dari anak-anak peserta lomba kali ini adalah, mereka tidak takut menggunakan bahan. Kalau dulu, mungkin takut karena bahannya mahal. Tetapi, sekarang kelihatannya mereka bebas sekali menggambar tanpa memikirkan bahan.
Editor : I Gusti Ngurah Agung Bayu Sastra