SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik gemerlapnya perkembangan Buleleng, ada sosok yang menyimpan kenangan mendalam tentang masa kecilnya di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng. Nyoman Wisandika, kini menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, adalah saksi hidup perjalanan kawasan tersebut dari masa kejayaannya hingga transformasinya menjadi gedung konvensi bertaraf internasional.
Nyoman Wisandika kecil tumbuh di era ketika Pelabuhan Tua Buleleng masih menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada tahun 1975-1976, ia sering bermain di sekitar pelabuhan yang saat itu dipenuhi kapal-kapal pedagang, terutama dari Tiongkok.
Kapal-kapal besar ini membawa barang-barang ekspor dan impor, dari rempah-rempah seperti cengkih hingga bahan bangunan seperti semen. Ia masih ingat bagaimana para saudagar berkeliling di dalam gudang besar yang memiliki sekat-sekat untuk memisahkan berbagai jenis barang dagangan. Semua transaksi dilakukan di sana, menjadikan pelabuhan ini sebagai pusat ekonomi yang penting di Buleleng.
Di antara kenangan yang paling melekat di benaknya adalah Gedung Doana, gedung bea cukai peninggalan Belanda yang berdiri tepat di depan dermaga. Gedung ini menjadi tempat penyimpanan sementara sebelum barang-barang dikirim ke luar negeri.
Baca Juga: Disbud Buleleng Siapkan 9 Pagelaran Seni Terbaik untuk PKB 2024, Ada Tari Gambuh yang Hampir Punah
Pria kelahiran 8 Oktober 1966 itu mengingat seorang tetangganya, Pak Kaler, yang bekerja di Kantor Doana. Setiap kali pulang kerja, Pak Kaler kerap membawa ikan hasil transaksi di pelabuhan dan membagikannya kepada tetangga, termasuk keluarga Wisandika. Dari situlah ia sedikit memahami bagaimana aktivitas perdagangan di kawasan itu berlangsung.
“Saya kecil sempat lihat seperti itu. Sekitar tahun 1975-1976 itu saya masih kecil dan sempat main-main di tempat itu,” ujar Nyoman Wisandika, Kepala Dina Kebudayaan Kabupaten Buleleng.
Seiring berjalannya waktu, kejayaan Pelabuhan Tua Buleleng mulai meredup. Pemerintah memindahkan aktivitas bongkar muat ke Pelabuhan Celukan Bawang, membuat Gedung Doana perlahan menjadi kosong dan ditinggalkan.
Semak belukar mulai menyelimuti bangunan yang dahulu megah itu. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2011, gedung ini dibongkar dan dibangun kembali menjadi gedung konvensi bertaraf internasional yang kemudian dikenal sebagai Gedung Mr. I Gusti Ketut Puja.
Gedung ini sempat disebut dengan nama IMACO karena pernah menjadi lokasi penyelenggaraan festival topeng dunia yang digelar oleh International Mask Arts and Culture Organization (IMACO). Namun, pada tahun 2014, nama resmi Gedung Mr. I Gusti Ketut Pudja ditetapkan oleh Pemkab Buleleng.
Bagi Nyoman Wisandika, Pelabuhan Tua Buleleng bukan sekadar tempat bermain di masa kecil, tetapi juga saksi perubahan zaman. Kini, sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, ia berupaya menjaga dan melestarikan warisan budaya Buleleng, agar generasi mendatang tetap mengenal sejarah daerahnya yang kaya. ***
Editor : Dian Suryantini