SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dalam setiap upacara ngaben di Buleleng, Tari Baris Bengkol selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tarian sakral ini mengiringi perjalanan roh menuju tempat peristirahatan terakhir.
Salah satu sosok yang setia melestarikan tarian ini adalah Nyoman Suarjana, penari asal Desa Alasangker, Buleleng, yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari 35 tahun.
Nyoman Suarjana tidak secara formal belajar menari di sanggar. Kecintaannya terhadap Tari Baris Bengkol tumbuh dari kebiasaannya memperhatikan para sesepuh menari. Dari sekadar menyaksikan, ia mulai ikut menari hingga akhirnya dipercaya untuk tampil dalam berbagai upacara Pitra Yadnya.
“Saya tidak kejumput (dipilih secara khusus) atau belajar di sanggar. Saya hanya sering melihat orang tua menari, lalu ikut-ikutan karena memang suka dan hobi,” ungkapnya.
Sebagai seorang penari yang kerap didapuk dalam upacara adat, Nyoman Suarjana juga sering menerima undangan menari yang disertai dengan persembahan banten. Baginya, menari bukan sekadar seni, tetapi juga bentuk pengabdian spiritual.
“Kalau ada yang meminta saya menari, biasanya mereka membawa uleman atau mengundang dengan membawa banten,” tambahnya.
Tak hanya Tari Baris Bengkol, Nyoman Suarjana juga menguasai Tari Topeng Sidakarya, yang juga menjadi bagian dari ritual keagamaan. Keahliannya ini membawanya tampil dalam berbagai upacara di kabupaten dan kota lain di Bali.
“Bisa dikatakan saya sudah keliling Bali untuk menari, tetapi paling sering di Buleleng,” katanya.
Dedikasi dan ketulusan Nyoman Suarjana dalam melestarikan seni tari sakral menjadikannya sosok yang dihormati di dunia seni pertunjukan tradisional Bali. Dengan pengabdiannya yang panjang, ia telah berkontribusi besar dalam menjaga kelangsungan Tari Baris Bengkol dan Tari Topeng Sidakarya sebagai bagian dari warisan budaya Bali. ***
Editor : Dian Suryantini