Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fenomena Mengejutkan! Tabanan Catat Angka Kelahiran Terendah di Bali Tahun 2024

IGA Kusuma Yoni • Sabtu, 1 Maret 2025 | 15:16 WIB

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Tabanan, NI wayan Mariati, saat layanan KB gratis di gedung I Ketut Maria Tabanan
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Tabanan, NI wayan Mariati, saat layanan KB gratis di gedung I Ketut Maria Tabanan

BALIEXPRESS.ID  - Di balik stabilnya rasio pertumbuhan pasangan usia subur, Kabupaten Tabanan justru mencatat angka kelahiran paling rendah se-Bali pada tahun 2024.

Fakta ini mengundang tanda tanya besar: Apa yang sebenarnya terjadi?

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Tabanan, Ni Wayan Mariati, mengungkapkan tingkat kelahiran hanya mencapai 1,8 persen per 100 pasangan usia subur.

"Artinya, angka kelahiran kita sangat rendah. Bahkan, dibandingkan kabupaten/kota lain di Bali, Tabanan ada di posisi terbawah untuk tingkat kelahiran tahun ini," jelas Mariati, Jumat (28/2).

Bukan Karena Program KB, Lalu Apa Penyebabnya?

Menariknya, rendahnya angka kelahiran ini bukan disebabkan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).

Faktanya, program KB di Tabanan justru terbilang sukses, dengan capaian 67 persen dari total pasangan usia subur.

Menurut Mariati, faktor ekonomi menjadi alasan utama banyak pasangan menunda atau enggan memiliki anak.

Tak hanya itu, perubahan pola pikir dan tren child-free yang marak di media sosial turut memengaruhi keputusan mereka.

"Ada pergeseran mindset. Banyak pasangan kini lebih realistis, memikirkan kesiapan finansial dan kualitas hidup sebelum memutuskan punya anak," ungkapnya.

Fokus DPPKB: Mengatur, Bukan Membatasi

Mariati menegaskan bahwa tugas DPPKB bukan membatasi jumlah kelahiran, melainkan mengatur jarak kelahiran dan memastikan keluarga siap secara ekonomi.

"Kami ingin keluarga lebih sehat dan sejahtera. Pemberian alat kontrasepsi gratis, misalnya, tujuannya untuk menjaga jarak kelahiran dan menghindari risiko 4T: terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak," tambahnya.

Fenomena ini menjadi cerminan dinamika sosial modern yang terus berkembang. Apakah tren ini akan berlanjut atau ada perubahan ke depannya?

Yang jelas, keputusan memiliki anak kini bukan sekadar tradisi, melainkan hasil pertimbangan matang pasangan suami istri.

Bagaimana menurut Anda? Apakah ini tanda perubahan positif atau justru tantangan baru untuk masa depan Tabanan? *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #kelahiran #tabanan