SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lahir di Gobleg pada 23 Juli 1991, Gusti Agung Ngurah Putra Sudewa, atau yang akrab disapa Gung Gus, mungkin tidak pernah membayangkan dirinya akan terjun ke dunia politik. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan adat yang begitu kuat, dibesarkan dengan nilai-nilai tradisi dan tanggung jawab besar sebagai bagian dari keluarga yang memiliki posisi penting di Catur Desa Adat Dalem Tamblingan. Ya, Gung Gus adalah Putra Mahkota dari Puri Gobleg – bagian dari Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.
Tanggung jawab untuk meneruskan tugas sebagai Putra Mahkota cukup berat. Namun, dibalik tanggung jawab itu, dorongan keluarga dan orang-orang di sekitarnya membuatnya melangkah ke jalur politik, meski awalnya penuh keraguan.
Sejak 2014, Gung Gus mulai terlibat dalam dunia politik. Awalnya, ia merasa politik adalah sesuatu yang jauh dari dirinya, sesuatu yang kaku dan penuh intrik. Namun, perlahan ia menyadari bahwa ini adalah jalan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama anak muda dan komunitas adat di daerahnya.
Saat pertama kali mencalonkan diri, suara yang diperolehnya memang banyak terpengaruh oleh sosok ayah yang dihormati di komunitas adat. Namun, pada Pileg 2019, situasinya berbeda. Kali ini, Gung Gus sendiri yang turun langsung ke lapangan, berjuang, dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Baca Juga: Alas Merta Jati di Catur Desa Adat Tamblingan, Sebagai Uluning Bali, Sumber Kehidupan
Tahun 2024 Gung Gus juga kembali lolos sebagai anggota DPRD Kabupaten Buleleng. Lagi-lagi, label anggota dewan termuda masih ia pegang. Gung Gus tidak memungkiri bayang-bayang sosok ayahnya masih dipandang oleh masyarakat. Ayahnya adalah seseorang yang terpandang. Masyarakat Catur Desa Adat Dalem Tamblingan menyebutnya Dane Pengrajeg.
“Memang tidak sepenuhnya power dari diri sendiri. Turun ke lapangan memang sendiri, tapi masyarakat juga melihat Aji (ayah). Jujur, tanpa Aji saya juga bukan siapa-siapa,” ujar Gung Gus.
Sebagai anggota DPRD dari Partai Demokrat, Gung Gus kini duduk di Komisi I. Dari sini, ia memiliki kesempatan untuk memperjuangkan berbagai hal yang dekat dengan hatinya, termasuk kepentingan anak muda, pendidikan, dan perkembangan desa-desa di wilayahnya.
Ia percaya bahwa perubahan tidak hanya datang dari atas, tetapi harus berakar dari komunitas. Oleh karena itu, ia sering turun ke lapangan, berbaur dengan masyarakat, mendengar langsung keluhan dan aspirasi mereka. Cara Gung Gus berbaur di masyarakat sedikit berbeda dari pejabat kebanyakan. Ia hanya datang ke komunitas anak muda sebagai teman sejawat.
“Sebagaimana saya berinteraksi dengan teman saja. Sebagai tetangga. Tidak ada yang perlu memperlakukan saya secara istimewa, berbeda atau lebih mewah. Biasa-biasa saja, yang penting saya bisa mendengar mereka dengan jujur,” kata dia.
Baca Juga: Pemkab Buleleng Lakukan Eksplorasi Cagar Budaya di Desa Adat Tamblingan
Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Menjadi anggota DPRD sekaligus tetap menjalankan peran dalam adat bukan perkara mudah. Seringkali, tugas sebagai wakil rakyat berbenturan dengan tanggung jawab adat yang juga tidak kalah besar.
Ada kalanya ia merasa dilema, tetapi ia percaya bahwa kedua dunia ini bisa berjalan beriringan. Baginya, adat dan politik tidak harus bertentangan, justru bisa saling melengkapi.
Di luar politik, Gung Gus adalah sosok yang aktif dan memiliki banyak hobi. Ia suka berada di lapangan, menikmati olahraga, touring, bahkan mengikuti dan membawa tradisi menggangsing hingga ke Jakarta. Baginya, hidup tidak boleh hanya dihabiskan di ruang rapat atau kantor, tetapi juga harus tetap membumi, tetap dekat dengan orang-orang yang ia wakili.
Selama tiga periode di DPRD, banyak hal yang telah ia perjuangkan, meski tidak semua bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Namun, satu hal yang pasti, ia tidak pernah berhenti berusaha. Ia ingin menjadi contoh bagi anak muda lainnya bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang pengabdian. Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda bisa membawa perubahan, asalkan mereka mau bergerak dan berani mengambil langkah.
Saat ditanya tentang masa depan, Gung Gus tidak banyak berencana. Baginya, semua tergantung pada takdir dan restu dari ayahnya serta masyarakat. Satu hal yang ia tahu pasti, selama ia masih dipercaya, ia akan terus berusaha memberikan yang terbaik, baik untuk adat maupun politik. Sebab bagi Gung Gus, melayani masyarakat bukan hanya tugas, tetapi juga panggilan jiwa. ***
Editor : Dian Suryantini