Sosok Ayu Laksmi dikenal sebagai penyanyi pertama dari Pulau Dewata yang berhasil menembus industri musik nasional pada era 1990-an. Berkat gaya bermusiknya yang khas, Ayu dijuluki sebagai "Lady Rocker."
Pemilik nama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani ini lahir dari pasangan I Gusti Putu Wiryasutha dan I Gusti Ayu Sri Haryati.
Terlahir di lingkungan yang erat dengan seni, terutama musik, Ayu telah menunjukkan bakatnya sejak usia empat tahun. Ia aktif mengikuti berbagai festival seni dari tingkat lokal hingga internasional.
Nama Ayu mulai dikenal luas setelah ia bersama kakaknya, Ayu Weda dan Ayu Partiwi, membentuk trio vokal "Ayu Sisters."
Mereka berhasil meraih juara pertama dalam ajang BRTV tingkat Provinsi Bali pada tahun 1983. Trio ini kemudian meraih peringkat ketiga dan dinobatkan sebagai "Trio Berpenampilan Terbaik" dalam kompetisi BRTV tingkat nasional.
Sebagai seorang penyanyi, Ayu memiliki karakter suara yang kuat dan khas. Suaranya sempat menghiasi berbagai lagu di industri musik nasional, termasuk mengisi soundtrack film.
Keberhasilannya membuatnya menjadi salah satu ikon musik rock wanita Indonesia di masanya.
Pada tahun 1991, Ayu merilis album debutnya yang berjudul Istana yang Hilang. Namun, album ini kurang mendapat sambutan baik di pasaran.
Akibatnya, Ayu memilih untuk vakum dari dunia musik dan melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Udayana.
Setelah lulus pada tahun 1993, Ayu tidak meninggalkan dunia seni. Ia kembali berkarya dari nol, tampil di berbagai kafe, serta mencoba peruntungan dengan membuka usaha bar kecil-kecilan.
Tak hanya itu, Ayu juga sempat berkeliling dunia dengan bernyanyi di kapal pesiar dan tampil dalam tiga bahasa sekaligus, yakni Inggris, Spanyol, dan Prancis.
Pada usia 37 tahun, Ayu menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Ayu Laksmi kemudian mulai menciptakan komposisi musik yang berbeda dari sebelumnya, dengan menggabungkan unsur musik tradisional dan modern.
Di tahun 2008, Ayu mencoba peruntungannya di dunia seni peran. Ia membintangi film Under the Tree karya Garin Nugroho.
Berkat aktingnya, Ayu masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2008 serta Tokyo International Film Festival di tahun yang sama.
Selain berakting, Ayu tetap aktif di panggung musik. Ia kerap membawakan kakawin kuno yang diambil dari Kitab Arjuna Wiwaha dalam bahasa Kawi dengan gaya kontemporer yang memikat.
Perjalanan panjangnya dalam seni menginspirasi Ayu untuk kembali merilis album solo setelah 20 tahun vakum. Pada tahun 2011, ia meluncurkan album Svara Semesta, yang kemudian disusul dengan album Svara Semesta II pada 2015.
Dalam album-albumnya, Ayu mengusung filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
Karya-karyanya mendapat apresiasi tinggi, bahkan album Svara Semesta masuk dalam nominasi 20 Album Terbaik 2011 serta nominasi Desain Grafis Terbaik di AMI Awards 2012.
Pada tahun 2012, Ayu dinobatkan sebagai "Ibu Budaya" oleh Komunitas Spiritual Puri Agung Dharma Giri Utama.
Tiga tahun kemudian, ia juga didapuk sebagai Duta Perdamaian oleh Komunitas Gema Perdamaian.
Nama Ayu semakin dikenal publik setelah ia membintangi film Pengabdi Setan karya Joko Anwar pada tahun 2017.
Perannya sebagai sosok Ibu yang mengalami penyakit misterius sukses mencuri perhatian penonton. Film ini berhasil meraih lebih dari 4 juta penonton dan semakin mengukuhkan Ayu Laksmi sebagai aktris berbakat. (dik)
Editor : I Putu Mardika