Hal ini disampaikan oleh Bupati Sutjidra saat ditemui usai melaksanakan panen jagung bersama Wakil Bupati Gede Supriatna, perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah undangan lainnya di Hutan Kota Singaraja, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Sabtu (15/3).
Sutjidra menjelaskan bahwa jagung arumba merupakan varietas unggul yang memiliki usia panen hanya 60 hari.
Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, varietas ini juga sangat cocok dikembangkan di lahan-lahan kritis yang minim air.
“Jadi ini cocok sekali untuk dipraktikkan oleh para petani. Apalagi di lahan kritis, karena tanaman ini tidak memerlukan banyak air,” jelasnya.
Hutan Kota Singaraja yang digunakan sebagai lahan pertanian terintegrasi akan dimanfaatkan sebagai pusat edukasi bagi petani, terutama dari subak-subak yang lahannya mengalami kesulitan air.
Para petani akan diarahkan untuk menanam jagung arumba sebagai bagian dari gerakan ketahanan pangan nasional dan program kemandirian pangan daerah.
“Di Buleleng ini ada 4.000 hektar lahan tidur yang sudah kita manfaatkan menjadi lahan pertanian terintegrasi, dan kita akan menyasar lagi puluhan ribu hektar lahan tidur lainnya yang ada di wilayah barat dan timur,” tambahnya.
Sutjidra berharap dengan adanya percontohan ini, petani akan semakin termotivasi untuk menanam jagung arumba. Ia pun menekankan bahwa jagung ini memiliki rasa yang enak serta nilai jual yang tinggi.
“Mudah-mudahan dengan percontohan ini petani kembali bergairah untuk menanam jagung arumba. Rasanya gurih dan nilai jualnya juga cukup tinggi. Ini bagian dari program 100 hari kami dalam bidang pangan, di mana kita memanfaatkan lahan kritis untuk mewujudkan kemandirian pangan di Buleleng,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Buleleng Gede Melandrat menyebut bahwa jagung arumba juga sering disebut sebagai jagung ketan karena teksturnya yang lembut dan rasanya mirip ketan.
Jagung ini banyak dikembangkan di Kecamatan Gerokgak, yang selama ini dikenal sebagai produsen utama jagung ketan di Buleleng.
“Dari Gerokgak, setiap kali ada penyeberangan dari Pelabuhan Sangsit ke Madura, ada dua hingga tiga truk jagung ketan yang dikirim. Tekstur dari jagung arumba lebih halus, tidak terlalu lengket, tetapi tetap mempertahankan rasa khasnya,” ujarnya.
Melandrat juga menambahkan bahwa jagung arumba memiliki keunggulan dari segi waktu panen.
Dengan masa panen hanya 60 hari, varietas ini bisa dipanen hingga lima kali dalam setahun, jauh lebih cepat dibandingkan jagung lokal yang baru bisa dipanen setelah enam bulan.
“Harga jagung arumba juga lebih bagus dibandingkan jenis lainnya. Saat ini, harga jualnya mencapai Rp 5 ribu per tiga biji. Namun, perlu diperhatikan bahwa keberhasilan panen sangat bergantung pada standar teknis dalam budidayanya. Oleh karena itu, kami akan memberikan edukasi kepada petani agar mereka bisa menanamnya dengan benar dan mendapatkan hasil maksimal,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika