BALIEXPRESS.ID-Mengarak ogoh-ogoh sebelum pelaksanaan hari Raya Nyepi menjadi sebuah ritual yang bertujuan untuk menyomya bhuta Kala.
Ogoh-ogoh umumnya diarak sehari sebelum Nyepi atau pada hari Pengerupukan.
Ketidaktepatan waktu pengarakan ogoh-ogoh dapat berdampak negatif bagi alam semesta secara niskala.
Hal tersebut diungkapkan oleh seorang sulinggih Ida Pandita Kabayan.
Melalui aku media sosialnya, Ida Pandita Kebayan menyebut bahwa Bhuta adalah ruang sedangkan Kala adalah waktu.
Baca Juga: De Gadjah Bantah Rehat dari Politik: Fokus Urus Organisasi, Partai, dan Olah Raga
“Bhuta kala ini diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh,” jelas Ida Pandita dikutip pada Selasa (25/03/2025).
Lebih lanjut, Ida Pnandita menyebut kekurangtepatan dan tata cara mengarak ogoh-ogoh bagaikan mengundang bhuta kala tanpa memberikan makanan.
Cara yang baik mengarak ogoh-ogoh adalah melakukan Upacara Melasti terlebih dahulu.
“Kemudian melakukan tawur di catus pata, kemudian setelah bhuta kala di Somya, maka ogoh-ogoh diarak dengan sukacita,” jelasnya.
Baca Juga: Jukung Dihantam Ombak, Nelayan Hilang di Perairan Tanah Lot Tabanan
Tapi sebelum itu, ogoh-ogoh sudah diplaspas, dipasupati dan para pengaraknya dilakukan mabiakala.
“Setelah itu ogoh-ogoh dipralina,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ida Pandita Kebayan menyebut bahwa waktu yang tepat untuk melakukan pengarakan ogoh-ogoh pada saat hari Pengerupukan.
Baca Juga: Gelar RUPST 2025, BRI Bagikan Dividen Rp51,73 triliun dan Bersiap Lakukan Buyback Rp3 triliun
“Setelah melakukan tawur di catus pata, maka ogoh-ogoh ini baik untuk diarak, apakah dilombakan atau tidak itu tidak masalah,” tegas Ida Pandita Kebayan.
Editor : Wiwin Meliana