SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sejak dahulu kala, wajah dianggap sebagai cerminan kepribadian seseorang. Dengan melihat dan mengenali wajah seseorang, maka lebih mudah memahami karakter atau kepribadian orang tersebut. Wajah menjadi unsur penting dalam berinteraksi dengan orang lain, karena memberikan banyak informasi tentang suasana hati, temperamen, karakter, serta status sosial dan ekonomi.
Ilmu fisiognomi, yang secara khusus mempelajari hubungan antara wajah dan karakter, bukanlah disiplin ilmu yang baru muncul. Ilmu ini telah ada sejak ribuan tahun lalu. Sekitar 2000 tahun yang lalu, para tabib Cina mendiagnosis penyakit dengan cara membaca wajah pasien. Mereka meyakini bahwa wajah mampu menggambarkan karakteristik, tabiat, temperamen, dan energi seseorang.
Fisiognomi telah mengalami perkembangan dan penerapan yang luas di berbagai kebudayaan sepanjang sejarah. Di Tiongkok kuno, tabib memanfaatkan ilmu ini untuk menilai kesehatan dan potensi penyakit pasien. Di Barat, ilmu ini juga menjadi populer, terutama pada abad ke-19, ketika banyak ilmuwan dan filsuf mengaitkan fitur wajah dengan sifat psikologis dan moral.
Hari ini, meskipun ilmu modern lebih mengandalkan teknologi dan data ilmiah, ketertarikan pada fisiognomi tetap ada. Banyak orang yang masih mempercayai bahwa wajah bisa mengungkapkan banyak hal tentang seseorang, mulai dari kejujuran hingga tingkat energi dan kreativitas.
Clarissa Punipun, seorang cosplayer professional juga menguasai ilmu fisiognomi ini. Penting untuk diingat bahwa interpretasi wajah bukanlah ilmu yang pasti dan seringkali bersifat subjektif. Sementara beberapa aspek mungkin memiliki dasar ilmiah, banyak lainnya masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.
“Bisa lihat masa kecil, masa muda, masa tua. Ada sifat-sifat juga, buat introspeksi diri juga. Cinta gak bisa dibaca, aku bukan peramal atau cenayang gitu,” kata dia, pada podcast bersama artis ternama Deddy Corbuzier.
Baca Juga: Labubu! Tokoh Dongeng The Monster dengan Karakter Baik Hati, Ada Lima Jenis yang Bisa Dikoleksi
Sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah yang kaya, fisiognomi menawarkan wawasan menarik tentang bagaimana manusia berusaha memahami satu sama lain melalui penampilan fisik. Meskipun teknologi modern telah membawa perkembangan jauh dalam memahami tubuh manusia, wajah tetap menjadi jendela unik yang menghubungkan seseorang dengan karakter dan kepribadian orang lain.
“Kalau wajahnya di make up, operasi plastik atau ada yang palsu, masa depan bisa saja berubah. Kalau foto pakai filter gak ngaruh. Tapi sekali lagi ini bukan ramalan masa depan yang pasti. Ini ada ilmunya dan teorinya,” ungkapnya. ***
Editor : Dian Suryantini